5 Realita Tentang Lulus Kuliah, Pahit Tapi Nyata!

Sekarang kamu memasuki tahun terakhir kuliahmu, sebentar lagi kamu akan lulus kuliah. Apa yang kamu pikirkan tentang hidupmu pasca kelulusanmu? Beberapa dari kamu bisa menjawab dengan: mencari pekerjaan. Bukan jawaban yang salah memang, tapi apakah memang semudah itu? Apakah hidup ini memang semudah pidato yang kau dengar di upacara wisuda tentang mengikuti mimpimu karena di masa depan dunia ini tergantung padamu.

Cobalah kita mengambil sudut pandang lain diluar kalimat-kalimat manis yang kau dengar saat kelulusan. Percayalah bahwa dunia di luar sana lebih gila daripada yang sering kamu lihat di reality show malam. Di sana yang akan kau temui adalah komitmen-komitmen jangka panjang seperti rumah, keluarga, bla bla bla.

 Apakah lulus kuliah masih seindah yang mereka katakan? 

Berikut ini adalah 5 hal yang tidak pernah diberitahukan orang tentang lulus kuliah yang kamu harus benar-benar ketahui:



Gelar kuliah ternyata tidak berarti banyak

Kamu lulus dengan nilai yang memuaskan, membanggakan memang. Namun jangan berpuas diri dulu. kebanyakan yang akan kau temui, nilai perkuliahan yang bagus hanya membantumu sampai di depan pintu kantor. Selebihnya, 6 bulan awal ketika kamu sudah mulai bekerja, kamu hanya dinilai berdasarkan pekerjaan terakhir yang kau lakukan. 

Hal itu akan terjadi ketika misalnya suatu hari kamu mengacaukan data-data perusahaan yang mengakibatkan kerugian dan level perusahaan tempatmu bekerja harus drop sekian poin. Tentunya manajer akuntansi atau siapapun yang ikut bertanggung jawab terhadap apa yang kau lakukan tidak akan peduli soal kemampuanmu menjawab benar/salah dalam kuis di kelas.

Kuncinya, jangan terlalu bernafsu untuk langsung memulai semuanya dari atas. Pertanyaannya, cukupkah kemampuanmu untuk menghadapi tantangan di posisi atas? Kadang kamu perlu memulai segala sesuatunya dari bawah dan bekerja keras seperti yang lainnya. Jangan heran, jika nantinya kamu akan bekerja bersama orang-orang dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah dari apa yang kamu miliki. 

Jangan terlalu dipusingkan, semuanya hanya agar kamu lebih mengenal apa-apa saja yang kamu hadapi di pekerjaanmu kelak. Teruslah bekerja, mereka akan menggajimu, asah terus kemampuanmu dan mereka akan menggajimu lebih banyak.


Hutang

Mungkin kamu menyesal menghabiskan banyak uang membeli banyak buku untuk menunjang kuliahmu. Tidak masalah, sebagaian besar dari buku-buku itu dibelikan oleh orang tuamu. Tahukah kamu yang akan kamu hadapi kelak tidak lebih dari sebuah sistem yang hampir mustahil kamu jebol. 

Silahkan robek buku manajemen pemasaran atau apapun yang kamu pakai saat kuliah, karena yang akan kamu temui di toko adalah buku yang sama dengan revisi dan relevansi yang bertahan hingga 30 tahun ke depan. Masih belum cukup gila, bukan mustahil kelak kamu setelah lulus kuliah kamu akan menemukan ‘kengerian’ umum yang disebut dengan pinjaman.

Setelah kamu lulus kamu akan bertemu macam-macam biro pinjaman/kredit yang menawarkan kalimat manis tentang kemudahan dan keringanannya. Biro-biro pinjaman ini adalah perusahaan raksasa yang nyaris kebal dari kebangkrutan. Kamu ingin menghindarinya tapi kebutuhan pokokmu sehari-hari dan keinginan untuk memenuhi ‘gaya hidup’ membuatmu sulit untuk mengatakan tidak pada pinjaman. 

Ketika kamu memutuskan untuk meminjam atau mencicil sesuatu, artinya sebagian dari gaji yang kau terima dari pekerjaanmu akan dipotong setiap bulan untuk membayar cicilannya. Kamu sudah tahu apa yang akan kamu hadapi, bersiaplah.


Lebih baik berhenti kuliah saja

Orang yang tidak memiliki gelar akademis bukan berarti ia rendah dalam kemampuan dan kepandaian. Berikut ada sebuah anekdot tentang peran gelar akademis dalam kehidupan nyata:
“Aku tidak pernah mendapatkan gelar akademis. Bukan berarti bekalku ke kuliah tidak cukup atau aku tidak pandai. Aku memutuskan tidak menggantungkan semua prestasi masa depan saya ke bangku kuliah. Meskipun tidak kuliah, segalanya berjalan baik hingga hari ini. Saya bekerja di sebuah Bank, bekerja dengan orang-orang dengan tingkat pendidikan yang sama seperti apa yang saya punya. Aku bahkan bisa dikatakan lebih berhasil daripada beberapa orang di sana. Kemudian saya memutuskan untuk keluar dari pekerjaan saya di Bank dan memulai karir sebagai penulis. Sepanjang perjalanan karir saya tidak ada yang pernah menanyakan gelar akademis atau apakah saya pergi kuliah atau tidak.
Anekdot di atas sering kita temui di dunia nyata. Memang kamu bukan Bill Gates atau Mark Zuckerberg yang bisa sukses tanpa harus menjadi sarjana, tapi kamu masih memiliki banyak pilihan di luar sana dengan tidak lulus dibanding yang bisa kamu lakukan dengan lulus kuliah. 

Tidak perlu berhenti kuliah sepenuhnya. Kamu bisa mengambil waktu cuti satu atau dua semester untuk mencoba hal baru di luar sana. Banyak hal baru yang bisa anda coba seperti seni, traveling, terlibat dalam kegiatan sosial, mengasah bakatmu atau sekedar menjalani hidup dll. Ini akan membuat dirimu memiliki pengalaman, ide dan kebijaksanaan yang baru untuk menjalani sisa pendidikanmu sampai tiba waktu kelulusan. Bukan hal yang buruk sepertinya.


Tidak ada jaminan pekerjaan

Mungkin seperti ini yang ada di pikiranmu atau sebagian dari kita: “Setelah aku lulus kelak, aku akan bekerja dan mendapat posisi yang layak sesuai dengan gelar atau tingkat pendidikanku.” Jika kamu masih memegang pemikiran seperti itu, kamu keliru. Meski keliru kamu tidak sendiri. Banyak dari kita yang masih memegang prinsip kuno seperti itu - sebagian orang-orang tua masih terlalu khawatir karena tidak punya gelar akademis. 

Ini bukan sepenuhnya kekeliruanmu, orang-orang di seluruh sistem pendidikan yang menjejalkan kita pemikiran seperti ini. Kamu mudah saja mempercayai apa yang mereka katakan, tentu saja karena mereka pendidik. Lalu kini kamu menyadari bahwa tidak ada seorangpun yang bisa kamu percayai. Belum terlambat.

“The National Association of Colleges and Employers” di Amerika memperkirakan lebih dari 1,7 juta orang mendapat gelar sarjana di tahun 2013. Bayangkan jika separuh dari mereka merengek-rengek menginginkan pekerjaan yang sama dan mungkin pekerjaan itu adalah pekerjaan yang kamu inginkan pula. 

Kemungkinannya kamu harus mendapat pekerjaan yang tidak kamu suka atau setingkat di bawah kemampuan akademik yang kamu miliki. Tidak ada keliru untuk melakukannya, hanya saja dengan catatan kamu mengambil pekerjaan ini karena suatu saat pekerjaan ini akan membawamu ke pekerjaan yang kau impikan sejak lama. Jangan putus asa, teruslah berusaha.


Tidak semua yang kamu pelajari itu berguna

Beberapa orang yang lebih dulu terjun di dunia kerja mungkin pernah memberitahumu bahwa apa yang kau pelajari saat kuliah hanya sebagian kecil yang berguna atau malah tidak berguna sama sekali di pekerjaanmu kelak. Masalah dalam dunia nyata tidak selalu bisa dipecahkan dengan teori-teori yang ada dalam buku. Hal itu mungkin agak benar dalam beberapa kasus, namun percayalah tidak sepenuhnya benar.

Kamu sudah mempelajari banyak hal di sekolah dan universitas, komputer, akuntansi, ekonomi dan lain-lain. Suatu hari perusahaan di mana kamu bekerja mungkin akan memberimu kuasa untuk menyentuh data-data akuntansi mereka guna kepentingan perusahaan. 

Kemungkinanmu dalam melakukan kesalahan yang menyebabkan kekacauan dalam data-data tersebut tanpa kamu sadari akan semakin besar apabila kamu lupa akan dasar-dasar ilmu akuntansi yang pernah kau pelajari dulu. Itu juga berlaku untuk ilmu apapun yang kau pelajari, percayalah suatu saat kau akan menemukannya lagi di kehidupan nyata. Sesungguhnya tidak ada ilmu yang sia-sia.

Advertisement



    Komentar


About Us | Contact | Kebijakan Privasi
©2014 Nilni