Enaknya Kalau Kita Melek Teknologi

Era berkembang sedemikian pesat. Digitalisasi dimana-mana. Jaman masih tradisional, tiap kali gerah, orang lebih suka kipasan pakai kertas atau buku. Tapi setelah negara api menyerang, semuanya berubah. Tiap kali ngerasa gerah, sekarang orang kipasannya pakai tab.

Dalam taraf yang lebih lanjut, mungkin akan tiba suatu masa dimana orang kipasan pakai monitor komputer. Yang bentuk tabung tapi. Ah, tunggu aja.

Hey, asal kamu tahu, di era teknologi yang maju pesatnya semena-mena ini tentu memberi banyak keuntungan bagi banyak orang loh. Contoh: pebisnis. Bayangkan deh, kalau mau transaksi bisnis negosiasinya harus pakai surat. Dikirim ke kantor pos. Mending-mending kalau suratnya sampai dengan selamat sentosa bahagia raya.


Lah kalau pas diboncengin Pak Pos suratnya melayang terbawa angin. Jatuh ke sungai. Gimana coba nasib bisnis kamu? Belum lagi kalau pas nganterin, Pak Pos malah mampir dulu di angkringan. Terus suratnya dikasih ke Mas-Mas angkringan. Gimana hayo?

“Ya nggak apa-apa, kan, Mas Penulis. Itu kan, yang jadi Mas-Mas angkringan, saya!”

Tapi seenak-enaknya hidup tanpa teknologi, paling enak tetep hidup di dunia teknologi. Plus, melek teknologi. Karena kalau hidup di era teknologi tapi nggak melek teknologi ya, sama aja kayak beli smartphone, terus tujuannya untuk nonton jam doang. Buat apa? Nggak guna! Mending beli jam dinding. Dan dipakainya di tangan.

Jadi orang melek teknologi itu enak loh. Apa aja enaknya? Yuk ah, cek!

Melek Teknologi via theguardian.com

1. Kerjanya efisien

Coba kalau nggak melek teknologi, ngetik di keyboard pasti ada 8 jari yang nganggur, dan 2 telunjuk yang aktif. Telunjuk kaki pula! Apalagi kalau kamu dikasih target ngetik 1000 kata kayak artikel yang lagi kamu baca ini. Beuh! Itu kalau mulainya pagi hari, bisa-bisa kamu kelar nulis artikelnya bersamaan dengan saat dajjal turun.

Nah, enaknya melek teknologi, kamu bisa ngetik 10 jari. Lebih cepet! Ibaratnya nih ya, kamu dikasih target nulis artikel dengan jumlah kata yang sama seperti diatas, kemudian ditinggal pesen bakso dari abang-abang bakso yang lagi melintas, pasti bersamaan dengan baksonya jadi tulisannya akan kelar.


2. Dapat duitnya cepat

Biar gampang ngebandinginnya, sekarang kita umpamakan yuk. Kasusnya: 2 orang dengan bisnis yang sama. Orang pertama, melek teknologi. Orang kedua, gaptek. Dan orang ketiga, biasanya adalah orang yang mengganggu hubungan percintaan. Makannya orang yang ketiga nggak usah diajak. Ngrepotin!

Coba bandingkan misal transaksi bisnis:

Orang pertama: transaksi digital: sosmed (twitter, facebook, dll), aplikasi massanger (whatsapp, BBM, dll) dan email -> transaksi -> jadinya beli -> ke JNE suruh ngirimin -> terkirim.

Orang kedua: transaksi konvensional: surat. Pengirim ke kantor Pos ngantar surat -> Lalu di kirimin sama Pak Pos -> Pak Pos mampir di warteg untuk makan -> Pak Pos melanjutkan perjalanan -> Pak Pos balik lagi karena tasnya ketinggalan -> Ke warteg ngambil tas -> Nganterin surat ke penerima -> Penerima surat nggak jadi beli -> Pak Pos mampir pipis dirumah penerima -> Setelah selesai, pamit. Lalu kembali ke warteg karena tadi ternyata motornya ketinggalan.

Tuh, lihat, lama kan prosesnya. Jelas-jelas nggak produktif!


3. Bisa dapat duit tambahan

Ada banyak loh, jenis-jenis bisnis online di internet. Kamu bisa memulainya dengan ‘0’ rupiah. Salah satunya: google adsense. Hal yang kamu perlukan hanya: bikin blog, dirawat, dipasang iklan, prmosi gratisan lewat sosial media, lalu setiap bulan gajian.

Bisnis offline mana coba yang bisa kayak gitu? Perlu dicatat pula, kalau dalam bisnis itu kamu nggak terikat sama yang namanya jam kerja. Sesuka-suka kamu aja. Tapi tetep, biar penghasilan lancar, ngerawatnya juga rajin.


4. Peluang kerja terbuka lebar

Jaman sudah serba maju nih. Apa-apa pakai komputer sekarang. Bahkan  di masa depan pun pasti tukang jaga WC Umum bakal pakai komputer demi memudahkan pendataan pelanggan yang masuk. Selain itu juga biar keuangannya tertata.

Jadi, apapun software yang kamu kuasai, kalau kamu sudah melek komputer meskipun cuma sedikit saja, pasti akan ada peluang kerja buat kamu.

“Saya cuma bisa Microsoft Word dan Microsoft Excel, Mas penulis.”

Walah, banyak kok yang mau nerima kerja. TU sekolahan, misalnya. Erat banget tuh sama 2 software tersebut. Jadi kalau melek teknologi, percaya aja deh pasti akan ada jalan. Asal mau mencari dan menjalaninya saja. Gitu.


5. Jadi pribadi mandiri

“Orang kalau melek teknologi, nggak perlu benerin komputernya ke servisan!”

“Lah, emang kenapa, Mas penulis?”

“Kan, komputernya nggak rusak. Ngapain dibenerin?”

“...........”


Itu kalau kasusnya nggak rusak loh. Nah, kalau komputernya rusak, pasti dibenerin sendiri kok. Kan, melek teknologi. Ngapain ke servisan segala? Buang-buang duit. Dari kebiasaan kecil kayak gini juga, orang-orang yang melek teknologi akan terdidik menjadi pribadi mandiri. Karena selalu menyelesaikan masalahnya sendiri.


6. Tahu kebutuhan gadget

Orang yang melek teknologi, pasti bisa mikir-mikir kalau mau beli gadget. Membeli sesuai kebutuhan. Mereka nggak akan beli Machintosh kalau tujuan utamanya hanya untuk facebookan. Nggak akan beli iPhone kalau cuma dipakai buat nyukur jenggot. Emang karena nggak bisa sih.

Orang yang melek teknologi, akan membelanjakan duitnya untuk beli sesuatu yang memang porsinya. Kalau yang dibutuhkan hanya aplikasi whatsapp, twitter, facebook dan email, smartphone android dengan OS gingerbread juga bisa memenuhi ini.

“Mas penulis lagi curhat, ya?”

“Ah kamu, tahu aja deh.”


7. Nggak gampang ditipu

Hampir jadi kelaziman bagi penjual gadget atau tukang servisan: nipu pembeli gaptek. Kalau kamu beli laptop baru, misalnya. Dari vendornya menjanjikan dapat hadiah mouse wireless. Tapi pas kamu minta buat di instalin operating system, diam-diam Mas penjualnya ngambil mouse bonusannya tadi tanpa sepengetahuan kamu. Dan gara-gara kamu nggak melek dan nggak mengikuti iklan dari vendornya, kamu jadinya nggak tahu kalau dapat bonus.

Itu salah satu contoh loh. Masih ada komponen-komponen lain yang berpotensi jadi penipuan. Mulai dari dicolong headsetnya, chargernya bahkan sampai bungkus plastik kreseknya.


8. Nggak ngrepotin orang lain

Kalau suatu hari menghadapi kerusakan pada gadget, orang yang melek teknologi pasti bakal googling dengan menyelesaikannya sendiri. Gimanapun caranya. Berbeda sama orang gaptek. Dikit-dikit teriak:

“Eh Mas, kok komputer saya ngehang? Gimana ini gimana?”

Atau mungkin,

“Mas, komputer saya ada virusnya. Tolong deh, tolong!”

Dalam level yang lebih parah, ngrepotinnya begini,

“Aduh Mas, ini kenapa? Kok bentuk monitor komputer saya kotak?”


9. Bisa membantu sesama, dengan lebih luas

Kalau kamu gaptek tapi punya jiwa sosial tinggi, cara kamu menggalang dana pasti hanya menyerukan ke orang-orang. Misalnya, kamu punya program untuk membantu anak yatim. Kalau gaptek, pasti kamu akan mengumumkan itu saat rapat karang taruna maupun ibu-ibu PKK. Meskipun hasilnya banyak, pasti susah untuk meluas. Cuma warga yang kamu datangi secara langsung yang akan paham dengan gerakan sosialmu.

Coba bayangkan kalau kamu melek teknologi. Gerakan sosialmu yang mulia itu, bisa di share lewat blog, twitter, facebook, email dan lain sebagainya. Bayangkan berapa orang yang akan tergerak hatinya lalu membantu. Kemudian ketika kelak anak-anak yatim itu besar dan berguna bagi Agama, bangsa dan negara, sementara kamu sudah meninggal, berapa banyak pahala yang selalu mengalir untukmu meski jiwa serta ragamu sudah nggak lagi di dunia. Bayangkan.

Teknologi layaknya 2 mata pisau: ada yang tajam dan ada yang tumpul. Tinggal dari bagaimana cara kamu memanfaatkannya. Melek teknologi lah, selama kamu tahu alasan kenapa harus menguasainya. Sehingga saat memanfaatkannya, kamu selalu berada dalam kendali serta dengan penuh kesadaran siap menanggung apapun resikonya.

Advertisement



    Komentar


About Us | Contact | Kebijakan Privasi
©2014 Nilni