Pingin Kaya Raya di Usia 30 Tahun? Nih To-do-list nya!

Banyak alasan kenapa orang pengen kaya semuda mungkin. Mulai dari punya cita-cita ingin membahagiakan calon mertua, membiayai sekolah adik-adiknya, dan bahkan sampai supaya bisa menghajikan  orangtuanya tanpa harus jadi tukang bubur.

Gara-gara itu, mereka rela kerja keras siang dan malam. Ibaratnya, kaki di kepala, kepala di kaki. Kayak lagunya Peterpan yang jaman vokalisnya masih Ariel. 

“Eh Mas penulis, dari dulu vokalisnya Peterpan kan Ariel terus keleus.”

“Ah, kata siapa? Ariel kan sekarang jadi vokalisnya Noah. Bukan Peterpan.”

“...............”


Masa muda adalah masa-masa produktif. Saat penuh gairah untuk bermimpi dan intensif memperjuangkannya. Jadi kalau kamu emang bener-bener pengen kaya sebelum usia 30-an, nilni ada tip dari orang-orang yang sudah membuktikannya. 

Pingin Kaya Raya di Usia 30 Tahun? Nih To-do-list nya! via pixabay.com

1. Jadi karyawannya cepet aja!

Iya, jangan lama-lama. Cepetin aja. Maksudnya bukan kamu ikutan tes wawancara, diterima, terus setelah itu langsung mengundurkan diri sebelum hari pertama masuk kerja. Bukan. Tapi ya karena tujuan kamu jadi karyawan emang kepengen menimba ilmu dari perusahaan tempat bekerja. Lalu setelah itu keluar, dan buka usaha sendiri.

Oiya, pastikan juga bidang kerjamu masih segaris dengan mimpi bisnis yang kepengen kamu buka. Seperti kata pepatah: “Sambil menyelam, minum kaporit.” Kan kalau sesuai jadi enak tuh kedepannya. Petama, kamu dapat ilmunuya. Kedua, gajinya. Ketiga, Persatuan Indonesia. Harapannya sih sambil kerja, nyuri ilmunya bareng nabung. Jadi pas pengen keluar, ada modal dan ilmu yang kuat buat buka usaha.


2. Cari Mentor

Coba kalau kamu kerja di bidang yang ilmunya segaris dengan mimpimu, kayak tip nomer 1 diatas. Pasti akan ada banyak orang-orang hebat disana yang dengan senang hati bakal ngajarin kamu lebih tentang bidang yang ingin digeluti. Pasti.

Nyari mentor pasti juga jadi perkara yang gampang kalau relasi kamu di bidang tersebut sudah banyak. Sehingga masalah pasokan ilmu, nggak perlu diragukan lagi deh ya.


3. Kaki di Kepala, Kepala di Kaki

Enak banget deh, kalau hidup ini hanya punya tugas untuk bermimpi dan bermimpi, kemudian eksekusinya tinggal minta tolong sama doraemon. Nggak perlu kerja keras.

Tapi ini dunia nyata. Kamu punya masalah, lalu didiamkan, masalah itu nggak akan menyelesaikan dirinya sendiri. Begitu juga mimpi. Emang kalau kamu jago berangan-angan gitu mimpi bakal mewujudkannya sendiri tanpa ada gerakan? Enggak, kan?

Nah, tadi ilmu udah dibahas. Bisa didapat waktu jadi karyawan dan memanfaatkan atasan-atasan di perusahaan untuk jadi mentor bisnis kamu dalam membuka usaha. Dan sekarang tugasnya adalah kerja keras. Karena kerja cerdas itu sangat butuh kerja cerdas. Kayak lagunya Peterpan tadi: “Kaki di Kepala, Kepala di Kaki.”


4. Strategi – Aksi – Evaluasi

Lakukan aja 3 hal itu secara rutin dengan konsistensi tingkat tinggi. Karena semua punya tujuannya masing-masing.

Strategi: Sebagai peta. Arah. Agar kamu nggak tersesat. Karena kalau tersesat, Dora nggak bakal nolongin.

Aksi: Teori hanya akan berguna kalau ada aksi. Jadi setelah menelan strategi, bergeraklah. Gerak. Gerak. Gerak. Terus aja gitu. Karena sebagian besar keberhasilan setiap orang itu hanya ada di alam-alam tindakan. Bukan angan-angan.

Evaluasi: Waini. Ini penting banget nih. Kalau strategi ngasih peta, lalu aksi itu jalan, maka evaluasi itu semacam introspeksi. Siapa tahu tadi pas jalan, kakimu tersandung gajah. Maka dari itu, dengan adanya evaluasi, biar kedepan nggak akan ada lagi kesalahan yang terulang. Gitu.


5. No Excuse!

Emang nyari alasan itu ada manfaatnya ya?

Enggak kan? Kecuali kalau manfaatnya adalah untuk membuat masalah agar semakin rumit. Jadi kalau lagi ada problem, bukan malah cari kambing hitam. Kan mending nyari sapi. Lebih besar, lebih gemuk, dan kalau buat qurban bisa untuk kendaraan 7 orang.

Nah, karena beralasan itu nggak ada faedahnya, kasih aja solusi. Contoh kecil: internet lemot. Daripada ngeluh bilang:

“Waduh, internet nggak nyantai nih.”

Lah, mending nelpon Mas-Mas dari internet provider buat datang ke rumah atau kantor. Disuruh benerin. Jangan lupa juga bilang ke Mas-Mas internet providernya:

“Mas, sekalian belikan nasi goreng di pinggir jalan ya. Nanti bayarnya sekalian sama service internetnya. Makasih. Muach... muach.”


6. Investasi

Kalau pola kamu nyari uang masih konvensional, pasti urutannya gini: cari uang – belanjakan – cari uang – belanjakan – bayar hutang. Pokoknya gitu terus sampai akhir zaman.

Mau jatah hidup kamu itu sampai 1.000.000 tahun juga, kejadiannya bakal begitu terus. Maka dari itu, sangat perlu untuk punya kecerdasan finansial.

“Apa? Kecerdasan finansial? Wah, Mas penulis ini suka ngajarin yang berat-berat.”

“Berat? Ah, masa? Sini... sini... sini... biar dibantuin ngangkat.”


BIARKAN UANG, YANG BEKERJA UNTUK KITA!

Wuih, mantep nggak tuh kata-katanya? Sudah mirip kayak agen MLM ya? Tapi ini bukan MLM kok. Tenang aja. Intinya adalah, bagaimana caranya supaya kita nggak kerja, tapi pemasukan ada terus. Caranya ya, menginvestasikan uang untuk banyak hal. Bisnis, misalnya. Coba kalau uang-uang kamu itu dibelanjakan rumah. Lalu rumahnya dijadikan kos-kosan. Tingkat. Sampai lantai 1000. Ehm, kalau begitu kondisinya, yang kamu lakukan hanya perlu untuk pijit-pijitan sama anak dan istri aja dirumah.

Kamu juga bisa mencoba investasi. Ada banyak kok. Contohnya. Pun, ini dibagi dua:

Real asset: aset yang terlihat. Bisa dipegang memiliki wujud asli. Contoh: tanah, properti, logam emas, benda seni (film, album, buku, video special show stand up comedy) dan lain sebagainya.

Paper asset: aset yang berupa kertas atau portofolio. Contoh: surat berharga, reksadana, saham option, dan lain-lain.


7. Pilih teman

“Waduh, nanti saya dikiranya suka milih-milih, Mas penulis. Gimana dong?”

“Yah, teman itu emang harus milih. Dan pasti memilih. Karena kalau nggak milih, sama dengan kamu memilih teman yang nggak dipilih.”

Dengan siapa kamu sering membuang waktu sehari-hari, itu akan menentukan masa depanmu kelak. Pasti itu. Karena otak kita hanya akan terbentuk berasal dari apapun yang kita ijinkan untuk mengisi pikiran. Makannya, maksimalkan pemanfaatan waktu sehari-hari bersama orang yang positif. Bukan yang negatif. Apalagi sama sabun. Lah, mau ngapain kamu sama sabun sepanjang hari? Mandi terus-terusan?

Selalulah bersama orang-orang positif. Nggak usah takut diledekin pilih-pilih teman. Lagian kalau kamu memilih mereka yang negatif, orang yang ngejek tadi juga nggak mau tanggungjawab kan, kalau ada hal buruk yang terjadi padamu? Buat apa juga nurutin mereka? Alih-alih membuang waktu untuk mikirin mereka, mending buat merencanakan bisnis dan investasi. Lalu bergerak nyata mewujudkannya. Lebih manfaat kan? Berdampak positif pula.

Nah, diatas tadi adalah 6 poin yang bisa kamu praktekkan untuk bisa kaya sebelum usia 30 tahun. Praktekkan, praktekkan dan prakktekkan. Karena kebanyakan baca dan berencana, akan lebih lama menuju aksi nyata. Berstrategilah secukupnya, dan bergerak sebanyak-banyaknya!

“Hey Mas penulis, kamu bohong ya? Saya sudah mempraktekkan seluruh tip diatas, tapi kok tetap gagal?”

“Loh, kok bisa”

“Iya, karena usia saya sudah 43 tahun.”

“............”

Advertisement



    Komentar


About Us | Contact | Kebijakan Privasi
©2014 Nilni