Cara Membaca Puisi dengan Lantang

Pernahkah kamu merasa gerogi ketika disuruh maju oleh guru sastramu untuk membacakan sebuah puisi? Ketika isi puisi tersebut menyuruhmu untuk menyuarakannya secara lantang, tetapi malah tak ada suarapun yang kamu keluarkan sehingga seisi ruangan terheran denganmu.

Membaca puisi dengan lantang bukan berarti berteriak. Selama ini banyak yang mengartikan 'lantang' dalam membaca puisi berarti berteriak padahal yang dimaksud lantang disini adalah tegas dan tidak mendayu-dayu seperti saat kita membaca cerita biasa.

Membaca puisi tidak bisa asal-asalan dalam menggunakan nada. Seperti puisi perjuangan, apa bisa menggunakan nada yang sedih? Seharusnya menggunakan nada yang lantang dan tegas bukan? Mungkin kamu merasa kesulitan ketika ingin membacakan isi puisi. Atau kamu merasa tidak siap dengan puisi-puisi yang berbau ketegasan.

Kamu bisa mencoba langkah-langkah berikut untuk mengasah kemampuan membaca puisimu dan yang pasti mampu menyampaikan makna dari puisi tersebut secara jelas.

Via Pixabay

Sebelumnya, kamu harus membaca dulu cara-cara membaca puisi dengan benar. Seperti berikut:

1. Jika membaca puisi karya orang lain, pilihlah judul puisi yang paling kamu sukai.

2. Baca satu persatu bait puisinya, pahami satu persatu kata yang ada di dalamnya. Ini adalah hal yang terpenting sebelum membaca puisi. Puisi itu biasanya mengandung banyak makna konotasi, jika kita tidak mengetahui arti denotasinya maka saat membaca di depan penonton terkesan asal-asalan.

3. Resapi dan rasakan jalan puisinya. Sebelum membaca puisi, usahakan untuk membangun emosi kamu agar bisa masuk ke jalan cerita puisinya. Posisikan dirimu pada tema puisi yang kamu pilih, contohnya jika puisi yang kamu pilih menceritakan tentang perjuangan ibu, bayangkan wajah ibu kamu yang penuh kasih maka emosi itu akan terbangun.

4. Diam sejenak sebelum membaca puisi.  Pada saat kamu telah berdiri di depan penonton, jangan tergesa-gesa untuk memulai baca puisi. Tundukkan badan, tatap mata para penonton dengan berani, tarik nafas dalam lalu mulailah membaca judul puisi.

5. Membaca dengan artikulasi dan jeda yang tepat. Hal yang satu ini sangat penting dalam membaca puisi. Pengucapan dalam puisi harus jelas agar pendengar bisa mengerti apa yang kita ucapkan. Begitu pula dengan jeda yang kita ambil, jangan memenggal kalimat secara asal-asalan karena makna yang ditimbulkan bisa berubah.

6. Membaca puisi dengan lantang bukan berarti berteriak. Selama ini banyak yang mengartikan 'lantang' dalam membaca puisi berarti berteriak padahal yang dimaksud lantang disini adalah tegas dan tidak mendayu-dayu seperti saat kita membaca cerita biasa.

7. Tuangkan ekspresi yang alami. Membaca puisi berbeda dengan membaca berita. Membaca puisi dibutuhkan ekspresi dan gestur tubuh, namun kadang kala pembaca puisi hanya menggerakkan tangan kesana-kemari tanpa dasar. Ekspresi saat membaca puisi dapat terbentuk secara alami apabila kita membaca puisi tersebut dengan perasaan, ini juga merupakan bagian terpenting dalam membaca puisi.

8. Jangan monoton. Kejadian ini juga sering terjadi saat membaca puisi. Agar tidak terdengar monoton, pahamilah isi puisi kemudian berilah tanda jeda yang tepat pada teks puisi, setelah itu tindaskan kata-kata yang penting untuk disampaikan kepada pendengar saat membaca puisi.

9. Jangan tergesa-gesa untuk mengakhiri pertunjukan.  Saat membaca baris terakhir puisi, usahakan untuk menggunakan suara yang datar, jangan terdengar mengakhiri puisi, biarkan intonasinya menggantung sehingga rasa penasaran penonton tetap mengalir meski sebenarnya puisi telah selesai kamu bacakan. Diamlah untuk beberapa detik, tataplah penonton seperti saat sebelum membaca puisi, lalu tundukkan badan secara perlahan sebagai tanda penutupan.

Agar kamu lebih siap lagi untuk membacakan puisimu secara lantang, ada tambahan beberapa tips untukmu.

1. Baca puisi berulang-ulang sebelum hari H.

Kamu bisa membacanya berulang-ulang sampai kamu bisa merasakan pesan apa yang ingin disampaikan puisi tersebut. Kamu bisa mempraktikannya sesering yang kamu bisa. Baca berulang-ulang di berbagai tempat. Seperti di kelas, di kamar, atau bahkan di depan keluargamu yang sedang menonton televisi. Kamu akan membutuhkan penilaian mereka, terutama di bagian seuaramu yang perlu kamu keluarkan.


2. Siapkan diri untuk  presentasi yang sesungguhnya.

Sebelum membacakan puisi di depan guru sastramu dan di depan semua teman di kelasmu, kamu bisa meminum segelas air putih untuk membasahi tenggorokanmu sejenak sebelum suaramu habis untuk membacakan puisi. Tarik nafas yang panjang dan lakukan berulang-ulang agar bisa mengurangi rasa gerogimu. Kamu juga bisa membacakannya sekali lagi di depan salah satu temanmu untuk menilaimu apakan kamu sudah siap. Jangan sampai kamu merusak harimu hanya karena gagal menyampaikan pesan yang ada di dalam puisi.


3. Ucapkan atau baca puisi dengan tegas.

Jangan membaca puisi seperti robot, tempatkan emosi pada setiap kata. Kamu bisa menambahkan gerakan untuk memperjelas makna dari puisi tersebut. Tergantung situasi seperti apa yang ingin digambarkan oleh puisi tersebut. Yang terpenting adalah jangan sampai menggunakan nada yang datar untuk semua jenis puisi. Akan terasa aneh. Karena puisi merupakan kumpulan diksi yang indah bukan? Akan terasa hambar pula bila kamu salah membacakannya.


4. Setelah selesai mempresentasikannya, kamu bisa mengambil segelas air lagi untuk membuatmu tenang dan membasahi kembali tenggorokanmu. Kamu bisa menarik nafas panjang dan merasa lega karena kamu sudah membacakannya untuk semua yang ada di ruangan. Kamu juga bisa meminta pendapat teman sebangkumu untuk menilai apakah tampilanmu tadi sudah bagus atau masih harus melantangkan kembali.

Ketika membaca puisi, kamu harus tahu penggalan kata dan tanda baca dengan tepat. Berbeda penggalan akan berbeda makna pula bukan? Kamu harus tahu apa tujuanmu membacakan puisimu secara lantang. Pasti agar semua orang mendengarnya bukan? Dan yang pasti agar semua bisa merasakan pesan yang ingin disampaikan oleh puisi tersebut. Bersiap untuk mencobanya? Kamu harus mencobanya dari sekarang.

Oleh : Devita Putri Mardyanti

Advertisement



    Komentar


About Us | Contact | Kebijakan Privasi
©2014 Nilni