Cara Menghadapi Ibu yang Cerewet

Terkadang kamu merasa sangat sakit hati ketika ibumu memarahimu bukan? Atau secara tidak sengaja mengeluarkan kata yang sangat menyakitkan. Kamu akan berpikir bahwa ibumulah satu-satunya ibu yang sangat menyebalkan. Sesungguhnya tidak semua dan tidak hanya ibumu di dunia ini yang sangat menyebalkan dan cerewet.

 Tetapi satu hal yang pasti, semua ibu pasti cerewet terhadap anak-anaknya. Tidak ada satupun ibu yang menginginkan anaknya berada di zona yang salah. Ingat-ingat kembali ketika kamu masih kecil. Ketika kamu masih belajar berjalan ataupun belajar menggunakan sepeda. Ibumu pasti akan cerewet bukan?

Terutama takut bila kamu jatuh. Jangan menaruh dendam kepada ibumu. Atau kamu masih sebal karena ibumu terlalu menyebalkan dan cerewet? Mungkin sedikit saran di bawah ini bisa membantu mengatasi masalahmu.

via Pixabay

1. Tuliskan secara rinci apa yang membuatmu benci terhadap ibumu

Ambillah secarik kertas, tulislah alasan mengapa kamu sangat membeci ibumu. Apakah dia terlalu mengaturmu, atau terlalu mengekangmu, atau tidak pernah mau mendengarmu. Semua rasa kesalmu selalu memiliki alasan bukan?

Tuliskan alasan pasti mengapa kamu sangat membencinya. Kita tidak bisa asal mengatakan bahwa “ini salah ibu” atau “aku benci ibu”, tetapi kita harus benar-benar tahu apa yang salah pada ibu kita. Jangan lupa ketika kamu menuliskannya, tuliskan namamu.


2. Tuliskan secara rinci bagaimana hal itu dapat menggambarkan bahwa dia dapat membuatmu benci

Jika perilakunya berulang-ulang, kamu perlu menggambarkannya secara rinci bagaimana dia melakukan kesalahannya dan membuatmu kesal.

Tulis secara detail pula waktu kejadian, atau kapan pertama kali hal tersebut berlangsung dan kapan berulang. Menangislah bila kamu sudah tidak tahan lagi. Hal ini dapat membantumu menenangkan diri.


3. Baca apa yang kamu tulis di depan foto ibumu

Bila kamu sudah selesai menuliskan semua unek-unekmu, kamu bisa membacakannya di depan foto ibumu. Bila kamu tidak memilikinya, kamu bisa membacanya di depan cermin atau kamu juga bisa membayangkan wajahnya bila di depanmu.


4. Ubah alas kakimu

Kamu dan ibumu memiliki alas kaki kalian sendiri bukan? Kamu bisa mengenakan alas kaki ibumu. Dengan begini, kamu menempatkan dirimu sebagai ibumu. Setidaknya dalam benakmu, kamu adalah ibumu untuk saat ini. Bayangkan bagaimana perasaannya.

Bayangkan bagaimana dia membesarkanmu

Bayangkan ibu seperti apa yang kamu inginkan. Tanyakan kepada dirimu, apakah ibu seperti ini yang kamu butuhkan?


5. Ingat bahwa ibumu lahir sebelum generasimu

Kamu lahir setelah dia mengalami beberapa generasi bukan? Kamu harus tahu bahwa kalian hidup di jaman yang berbeda. Jadi pola pikir kalian tentulah berbeda bukan? Jangan terlalu egois dan melupakan bahwa kalian berada di generasi yang berbeda.

6. Berdiri atau duduk dimana kalian sering bertengkar

Kamu bisa duduk atau berdiri, atau berada di ruangan yang sering untuk kalian bertengkar. Kamu bisa membayangkan kembali bagaimana kalian meributkan suatu hal. Kamu bisa membayangkan bila ketika itu kamu adalah ibumu.

Kamu bisa menilai sendiri bukan, apa yang kamu rasakan. Kamu bisa membayangkan bagaimana emosi yang ada pada saat itu. apa pendapatmu mengenai hal itu?


7. Visualisasikan diri kamu sebagai anak kecil berumur lima tahun yang sedang berjalan di padang rumput dan mendengar anak-anak lainnya bermain dan tertawa

Ketika kamu melihat anak-anak tersebut, kamu mengenali salah satunya, yang merupakan ia adalah ibumu yang juga berusia lima tahun. Dia menarik tanganmu dan mengajakmu bermain bersama mereka. Apa yang kamu rasakan? Bersenang-senang bersamanya bukan? Kamu bersenang-senang dengan ibumu yang berusia lima tahun. Bayangkan itu ketika kamu benar-benar sedang marah dengannya.


8. Rasakan bagaimana perasaan ibumu yang dulu sama sepertimu

Ibumu dulu adalah seorang anak juga bukan? Dia pasti tahu bagaimana rasanya menjadi kamu. Dia juga pernah mengalami masa-masa remaja. Dia pasti juga pernah mengalami dimaki oleh ibunya. Yang dia lakukan saat ini adalah bagaimana dia menjadikanmu lebih baik dri dia. Mungkin ibumu tidak tahu bagaimana membesarkan anak-anaknya.

Sehingga yang dia tahu hanyalah dengan cara ini dia membesarkanmu. Dia juga hanya bisa mencontoh dari apa yang pernah ia alami dulu. Dia bukan mahluk yang sempurna bukan? Tidak ada satupun yang sempurna di dunia ini.

9. Tulis surat kepada ibumu

Mungkin kamu sudah salah menilai ibumu selama ini. Atau mungkin kamu belum bisa menerima perilakunya. Tapi satu hal yang harus kamu terima: ibumu menyayangimu. Meskipun caranya salah menurutmu, tapi dia tidak pernah mengurangi rasa sayangnya terhadapmu.

Kamu harus tahu itu, tidak ada satu ibupun yang membenci anaknya. Mungkin bila kamu takut berbicara langsung di depan ibumu, kamu bisa menuliskan surat kepadanya. Tuliskan apa yang selama ini ada di benakmu. Tuliskan semua masalah yang kamu miliki. Mulai dari hal kecil yang kalian ributkan, sampai sikap yang selalu diulang-ulang oleh ibumu yang selalu membuatmu kesal.

Kamu juga bisa menuliskan permintaan maafmu karena sudah membuatnya menjadi ibu yang cerewet dan menyebalkan. Kamu tidak bisa menyalahkan ibumu sepenuhnya.

Mungkin bagimu memaafkan tidaklah hal yang mudah. Tetapi apa salahnya memaafkan ibu yang selama ini merawat kita hingga kita sebesar sekarang? Ada beberapa fakta mengenai memaafkan orang lain. Mungkin kamu perlu membacanya untuk mengetahui apa itu memaafkan.

Memaafkan adalah bagian dari proses yang dimulai ketika kita berbagi rasa sakit hati setelah peristiwa menyakitkan berakhir dan akan berkembang begitu kita punya pengalaman mengoreksi diri, yang membangun kembali rasa percaya dan keakraban terhadap orang lain. Untuk memperbaiki dugaan keliru tadi, kita perlu melihat kenyataan yang sesungguhnya terjadi pada kita sebagai manusia biasa agar dapat lebih mudah belajar memaafkan kesalahan.

Proses memaafkan selalu berlangsung perlahan dan berlanjut sepanjang hubungan kita dengan orang tersebut. Mungkin saat ini kita hanya dapat memaafkan kesalahan seseorang sebanyak 10 persen, dan begitu kita membina hubungan kembali kita mungkin dapat menambah dengan 70 persen, tetapi tak pernah lebih banyak lagi. Hal di atas sah-sah saja.

Kita tak perlu menjadi orang baik bila kita memaafkan secara total, kita juga tak perlu menjadi jahat bila tak bisa melakukannya. Kita hanya dapat memberi apa yang mampu kita berikan dan apa yang orang lain peroleh.

Beberapa orang mungkin bertahan untuk memaafkan karena melihatnya sebagai ”penghentian permusuhan/dendam”, suatu kondisi di mana kepahitan lenyap digantikan rasa cinta dan kasih. Padahal sebenarnya tak ada orang mampu mencapai kondisi seperti itu. Dalam hidup, luka psikis tak pernah sepenuhnya sembuh atau menghilang, ataupun secara ajaib digantikan hal positif lain.

Yang benar, seperti halnya cinta yang matang, memaafkan membolehkan adanya pertimbangan serempak antara perasaan yang bertentangan, gabungan dari rasa benci dan cinta. Bila kita memaafkan, kebencian kita tetap ada, tetapi diimbangi dengan kenyataan orang yang menyakiti tidaklah begitu buruk ataupun kita yang telah sangat naif. Sebenarnya, dengan memaafkan bukan berarti kita mengingkari kesalahan pelaku atau ketidakadilan yang telah terjadi, tetapi hanya membebaskannya dari ganti rugi (retribusi).

Beberapa orang tak mau memaafkan karena berpikir, ”Mengapa saya harus membebaskan seseorang dari kewajiban memperbaiki kesalahannya?” Padahal, dengan memaafkan tidak berarti kita lemah atau harus membuat orang lain jadi tidak bertanggung jawab.

Bila tujuan kita berekonsiliasi, memaafkan memerlukan penebusan dari pelaku. Pemaafan yang sesungguhnya tak bisa diberikan sampai pelaku membayarnya melalui pengakuan, penyesalan, dan penebusan.

Yang benar, bagaimanapun orang yang disakiti tak pernah akan lupa seperti apa kita telah diperdaya atau dikhianati, apakah kita memaafkan atau tidak. Setelah bertahun-tahun berlalu, kita akan tetap bisa mengingatnya, tetapi hanya sebagai bagian dari suatu gambaran/potret yang juga melibatkan masa-masa kebersamaan lain yang lebih positif dengan pelaku.

Jadi, apa masih kamu tidak memaafkan ibumu? Pikirkan lagi apa yang kamu lakukan.

Oleh : Devita Putri Mardyanti

Advertisement



    Komentar


About Us | Contact | Kebijakan Privasi
©2014 Nilni