Cara Menjadi Chef Profesional

Chef. Apa yang terfikirkan oleh kamu jika mendengar kata itu? Hahaha tepat sekali, pasti itu berhubungan dengan makanan. Waah jadi lapar saya..
    
Selain itu, apa yang kamu bayangkan jika mendengar kata Chef itu? Apakah Seorang pria gagah yang berpakaian putih dengan celana hitam atau putih kotak-kotak kecil serta memakai topi tinggi dan menjadi raja sebuah dapur, yang kehadirannya biasa kamu jumpai di sebuah hotel berbintang lima ataupun bintang banyak atau restoran ‘kelas kakap‘sekalipun?

Dahulu, istilah Chef mungkin tidak terlalu lekat dengan keseharian masyarakat, hanya kalangan tertentu saja yang ‘kenal‘ dengan Chef, apalahi mereka yang berkantong tebal. Karena merekalah yang biasa menikmati santapan ataupun hidangan lezat di hotel atau restoran mewah.
    
Hingga saat ini, banyak acara di Televisi yang menyuguhkan acara masak-memasak baik itu yang sudah senior ataupun versi juniornya. Berkat banyaknya bermunculan acara masak di televise tersebut, istilah Chef mulai terasa lekat di masyarakat umum. Meski pada kenyataan yang ada tidak semua pembawa acara kuliner adalah seorang Chef.
    
Sebelum saya membahas lebih jauh tentang Bagaimana menjadi chef yang professional, maka terlebih dahulu alangkah baiknya jika kita mengetahui dengan seksama Chef itu seperti apa sih?

Sebenarnya apa sih Chef itu? Penasaran-penasaran?? Oke check this out.

via Pixabay

Sebenarnya sih kata Chef diambil dari bahasa Perancis, yang dalam Bahasa Inggrisnya berarti Chief atau Leader. Dalam bahasa Indonesia berarti pimpinan.

So, tidak setiap Chef adalah Kepala Juru Masak. Sebagai contohnya adalah Chef de Police yang artinya adalah Kepala Polisi. Contoh lainnya adalah Chef de Beuro atau Kepala Biro arti dalam Bahasa Indonesia. Dengan begitu, bisa dikatakan setiap pimpinan di Perancis itu namanya Chef. Tergantung bidang dan profesi apa yang di gelutinya itu.

Kalau Kepala Juru Masak? Kepala Juru Masak adalah Chef de Cuisine atau Chef de Patisserie untuk Chef Pastri. Di dapur pun ada yang namanya Chef de Partie (CDP) atau Kepala Bagian. Tergantung dapur yang ia pimpin tersebut. Chef De Partie ini juga bukan hanya di dapur, tetapi bisa juga dia adalah Kepala Bagian yang lainnya.
    
Jadi Chef itu sampai sekarang dikenal sebagai Juru Masak atau di Indonesia biasa disebut dengan Koki. Dengan keahlian yang super duber waow pada masalah masak memasak, nah orang itu yang biasa disebut CHEF.

Mengapa sih harus Perancis?
    
Kalau dipikir-pikir kenapa sih namanya harus Chef ya, dan bukan Chief saja? Terus kenapa yang digunakan adalah istilah bahasa Perancis? Jawabannya sih sederhana, karena Perancis merupakan kiblat kuliner di seluruh dunia. Negara ini punya sejarah panjang dalam hal kulinari, lebih dari 500 tahun yang lalu. Perancis adalah negara pertama yang menyebarkan para Chef-nya, baik dengan sengaja maupun tidak sengaja.

Di samping itu, terminolgi di dapur kebanyakan juga menggunakan Bahasa Perancis sebagai pengantar. Misalnya brunois (baca: brunoas, yang artinya potongan sayuran kotak-kotak kecil dengan ukuran 2 mm x 2 mm x 2 mm), Mire Poix (kumpulan sayur-mayur tertentu yang fungsinya sebagai aroma dalam pembuatan masakan), atau Bouquet Garny (kumpulan rempah-rempah yang diikat atau dibungkus dengan kain, untuk cita rasa).
   
Sebenarnya sih hidangan ala Perancis pun telah terpengaruh oleh negara dan bangsa lain. Pengaruh yang paling kental adalah dari Italia. Menurut sejarah, pada abad 15-16 seorang puteri bangsawan dari Florence, Itali, menikah dengan Raja Henri dari Perancis. Puteri inilah yang membawa serta memperkenalkan teknik memasak dari Italia ke Perancis. Di samping itu, kulinari Perancis pun ikut mendapat pengaruh dari negara-negara yang di taklukkannya.
   
Menurut Amy B Trubek, seorang mahasiswi dari Universitas Pensylvania Amerika Serikat dalam tesisnya untuk mendapat gelar Doktor. Perancis sudah mulai membuat serta menyebarkan buku dan teknik-teknik memasak sejak beberapa abad yang lalu. Maka dari itu tak heran jika pamornya di dunia kuliner pun sudah sangat kuat. Perancis juga melakukan pendokumentasian yang bagus. Selain itu yang paling penting adalah dukungan penuh dari Pemerintah Perancis.
   
Hingga kini, belum ada negara lain yang mampu menyaingi Perancis sebagai ‘kiblat’ nya kuliner di dunia. Dengan menguasai teknik pengolahan makanan Perancis, akan lebih mudah bagi seorang calon juru masak untuk mengolah hidangan dari negara lain.

China merupakan Perancis-nya Asia
  
Sekarang kita beralih dari Perancis. Karena kita berada di wilayah Asia, tahukan kamu salah satu Negara di Asia yang seperti Perancis? Yups, di Asia, China-lah jawaranya. Diakui oleh beberapa ahli dalam buku Professional Chef yang diterbitkan olah Culinary Institute of America (CIA), Cina merupakan satu-satunya negara yang variasi masakan dan makanannya bisa menyaingi Perancis. Waow…..
    

Lho tapi, kenapa kok bukan China sih yang menjadi “kiblat” masakan di dunia? Seperti yang telah kita ketahui Cina adalah merupakan negara yang mempunyai kebudayaan yang sangat tua. Tapi sayangnya kuliner Cina hanya berkembang di kalangan istana.

Bisa dibilang tidak keluar dari tembok-tembok istana di China. Dan, kalaupun kulinernya keluar dari area China pun, hanya sebatas makanan kelas bawahnya saja. Makanan kelas atas tetap hanya menjadi ’rahasia’ bagi para keluarga kerajaan dan bangsawan saja. Pokoknya China ‘secret’ gitu kalau masalah makanan kelas atas.

    
Asia Tenggara pun mempunyai Perancis juga lho..
    
Untuk wilayah Asia Tenggara, pusat kuliner atau kiblat kuliner saat ini adalah Singapura. Sebuah negara kecil yang terletak tidak jauh dari negara kita kita tercinta Indonesia. Hal ini bisa terjadi karena dukungan yang kuat dari pemerintah Singapura yang menyadari bahwa mereka tidak punya apa-apa untuk dijual, tapi mereka punya kemauan yang kuat untuk mengubahnya. Mereka pun menyadari minimnya Sumber Daya Alam (SDA), sehingga diperkuatlah Sumber Daya Manusia (SDM) nya.

Dan tentu saja hal ini tidak bisa dilakukan hanya dalam semalam saja. Cukup waktu yang cukup lama pada prosesnya. Nah bagaimana dengan Indonesia? Walaupun masih tertinggal, namun pada saat ini pengembangan masakan dan makanan Indonesia cukup menggembirakan.

Apa lagi setelah salah satu Televisi swasta menayangkan acara Allez Cuisine, baru terbukalah mata orang awam bahwa Chef itu bisa menjadi sebuah profesi yang bisa dibilang menjanjikan. Terungkaplah kenyataan bahwa bekerja di dapur bukan monopoli wanita saja, seperti yang selama ini terjadi di sebagian besar dapur rumah tangga masyarakat.
   
Indonesia kini masih harus bekerja keras, dukungan pemerintah adalah mutlak. Masih banyak orang Indonesia yang bersikeras untuk mengejar gelar sarjana, baik itu S1, S2 hingga S3, pokoknya kalau belum sarjana itu belum manteb.  Pekerjaan yang membutuhkan ketrampilan masih dipandang sebelah mata, walaupun mulai beberapa tahun yang lalu Indonesia sudah banyak berubah.

Sebagai contohnya, peminat kulinari di Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti, sudah mulai ada peningkatan secara signifikan terhadap mata kuliah Pengolahan Makanan (Food Production). Dan, sekolah tinggi ini pun  juga mempunya sebuah klub memasak yaitu TCC atau Trisakti Culinary Club yang para anggotanya adalah para mahasiswa Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti yang mempunyai minat di bidang Kulinari.
   
Di Yogyakarta pun kini jika kamu mulai berjalan-jalan memutari Jalan-jalan di kota Yogyakarta ini banyak yang menyajikan berbagai macam makanan. Dari makanan di era 90an sampai makanan modern pun ada di Yogyakarta.

Selain itu, jika kamu berkunjung ke tempat-tempat Wisata yang ada di Yogyakarta, tidak sedikit di sekitar tempat Wisata tersebut yang menyuguhkan aneka makanan khas dari daerah tersebut. Jangan salah men, selain kebudayaan, Yogyakarta pun terdiri dari sesuatu hal yang unik-unik, terutama dalam masalah makanannya.


Kiat Sukses Menjadi Chef Profesional
    
Untuk menjadi seorang Chef, ada banyak jalur yang dapat kamu tempuh. Pada jenjang sekolah tinggi, paling tidak, bisa melalui Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) jurusan tata boga atau jurusan perhotelan. Untuk yang lebih tinggi lagi, kamu bisa bergabung dengan akademi-akademi perhotelan atau Sekolah Tinggi Pariwisata. Tentunya lulusannya tidak langsung serta merta mendapatkan gelar Chef, kecuali setelah lulus langsung membuka usaha restoran dan menjadi Chef-nya pada restoran tersebut.
    
Nah bagi kamu yang hobi atau pun suka memasak dan juga kamu yang baru belajar masak, berikut ini akan saya uraikan tentang kiat-kiat sukses agar menjadi Chef yang Profesional. Check this out.
    
I Made Witara, Executive Chef Yogyakarta Plaza Hotel atau akrab disapa Made kali ini ingin berbagi tips yang dapat dicoba bila kamu tertantang ingin menjadi seorang chef  yang  profesional. Selain itu saya juga menambahkan beberapa tips dari berbagai sumber. Apa saja sih tipsnya itu?


Terjun langsung ke lapangan

Untuk menjadi seorang chef  yang hebat, hal yang perlu kamu lakukan adalah kamu perlu terjun memasak secara langsung ke lapangan bersama profesional lainnya. Kenyataan yang ada di lapangan dengan dunia sekolah ataupun kampus jauh sangat berbeda. Apabila kalau hanya belajar resep di buku, jangan berharap impian yang selama ini kamu idam-idamkan yaitu menjadi chef  yang hebat akan tercapai.


Bergaullah dengan Para Chef Senior

Cara ini sudah dibuktikan oleh beberapa chef  profesional dan hasilnya sangatlah berpengaruh positif terhadap keterampilan memasak mereka. Kamu akan memperoleh banyak ilmu baru dengan bergaul bersama para professional tersebut.

Jika kamu bergaul dengan mereka atau syukur-syukur bisa menjadi teman mereka, kamu juga dapat belajar teknik memasak dan resep baru yang belum pernah kamu peroleh sebelumnya. Kalau sama teman sendiri kan enak, tidak ada rasa canggung yang berlebihan walaupun teman kamu itu adalah seorang Chef Profesional sekalipun.


Ikutilah kompetisi

Kompetisi? Apa yang terlintas di pikiran kamu tentang komoetisi? Yupss benar sekali, kompetisi merupakan mencari musuh atau mencari lawan untuk beradu kekuatan. (Wah kayak perang aja nie. :D)
Kamu perlu mengikuti berbagai kompetisi untuk menambah pengetahun, wawasan dan kemampuan kamu mengenai dunia kulineri.

Dengan ikut kompetisi tersebut, kamu juga akan termotivasi untuk terus meningkatkan lagi-dan lagi kualitas masakan kamu demi tujuan yang kamu idam-idamkan untuk menjadi seorang Chef yang Profesional.


Perluaslah wawasan kamu

Perlu kamu ketahui, untuk menjadi seorang chef profesional tidak hanya didukung dengan keahlian memasak saja. Tapi kamu juga perlu belajar ilmu sosial budaya, ilmu akuntansi, ilmu kimia dan fisika, public relations (PR) serta berbagai ilmu lainnya yang mendukung. Selain itu, memiliki jiwa seni juga sangat diperlukan seorang chef  karena nantinya kamu harus dapat memadukan bahan dan bumbu dengan tepat agar menghasilkan makanan yang bercita rasa tinggi.
    
Mengapa Ilmu sosial budaya, Ilmu akuntansi, Ilmu kimia dan fisika itu sangat diperlukan sih? Ilmu sosial budaya ini diperlukan dalam menentukan menu agar sesuai karakter penikmat hidangan nantinya. Ilmu akuntansi digunakan untuk menentukan ukuran bahan-bahan yang digunakan serta menentukan harga jual yang pas.

Ilmu kimia dan fisika berguna agar nantinya seorang Chef dapat menjaga kondisi makanan agar tetap baik, mulai dari pengolahan hingga penyimpanannya. Kamu nantinya juga perlu membangun citra yang baik untuk diri dan masakan hasil karya kamu sehingga harus memiliki keterampilan yaitu public relations.



    
Asahlah kemampuan manajerial kamu

Dalam dunia kuliner, kerja sama tim juga sangat dibutuhkan lho, apalagi ketika kamu telah menjadi seorang profesional. Kamu akan menjadi koordinator bagi orang-orang di sekitar kamu agar dapat menghasilkan masakan-masakan yang berkualitas. Untuk itu, asahlah kemampuan manajerial kamu mulai saat ini agar kamu bisa terbiasa ketika terjun ke dunia profesional nanti.



Jika perlu, bekali diri kamu dengan Sekolah khusus tentang masak-memasak

Menempuh pendidikan yang setinggi-tingginya sangatlah bagus, apalagi dengan keinginan kamu yaitu untuk menjadi seorang Chef Profesional. Maka kamu perlu masuk ke sekolah khusus tentang masak-memasak untuk menambah ketrampilan memasak kamu. Jadi jangan pantang menyerah untuk menjadi yang professional.


Kerja Keras dan Disiplin

Seorang Chef itu ibarat seperti seorang seniman. Seorang Chef mengangap dapur bagaikan sebuah laboratorium miliknya, dimana Chef dapat mengeluarkan ide - ide cermelang serta rupawan dan bereksperimen. Ada hasil eksperimen yang berhasil mengugah selera makan dan ditampilkan di menu, tetapi tak sedikit pula yang mengalami kegagalan.

Trial and error inilah yang dilakukan oleh seorang Chef, oleh sebab itu sikap dan mental menjadi hal penting yang mendasar. Kerja keras dan disiplin itu sudah pasti. Mulai dari bangun pagi sampai melakukan segala sesuatunya sendiri di dapur. Pokoknya jika kamu ingin menjadi Chef yang Profesional kamu terlebih dahulu harus mencintai dapur.


Waktu Kerja

Ngomong-ngomong masalah waktu kerja. Chef juga memiliki rutinitas yang padat dan jam kerja yang berbeda dengan jam kerja kantoran. Terkadang pada hari-hari libur, mereka harus bekerja, karena pada hari-hari libur orang-orang justru sering jalan-jalan dan tidak sedikit yang bersantap di restoran.



Pengalaman

Pengalaman merupakan salah satu tips supaya kamu dapat menjadi seorang Chef Profesional. Tidak peduli kamu sekolah atau kuliah di Universitas dalam maupun luar negeri, kalau kamu tidak punya pengalaman itu belum tentu bisa menjadi seorang Chef yang Profesional. Kamu perlu banyak pengalaman relevan untuk pekerjaan. Pelatihan membantu mahasiswa memperoleh pengalaman yang diperlukan untuk memasuki industri hotel.

 Menjadi seorang Chef yang Profesional tidak langsung bisa dengan mudah seperti membalikkan telapak tangan. Perlu perjuangan yang Extra sabar. Nah, pengalaman disini contohnya, jika kamu ingin memasak suatu menu. Kamu perlu melakukan sebuah survey. Misalnya dengan kamu jajan makanan dari tempat satu ke tempat yang lain pasti akan berbeda rasa, warna atupun bumbu.

Nah dengan pengalaman survey yang kamu lakukan. Kamu bisa menciptakan sesuatu makanan dengan bahan yang sama, namun makanan itu menjadi sesuatu yang berkualitas yang nantinya akan membawa kamu ke tempat Chef Profesional tadi.


Berikut merupakan curhatan para Chef Indonesia yang saya rangkum dari vivanews.
    
Farah Quinn, Rin Rin Marinka, dan Juna Rorimpande, adalah sederet nama yang turut menggairahkan dunia memasak di Indonesia. Mereka muncul sebagai Celebrity Chef, meneruskan kejayaan Rudi Chorudin, atau Ibu Siska yang dulu sejak saya SMP selalu menemani pada Minggu pagi.
    
Sebelum menekuni kariernya sebagai juru masak di sejumlah restoran di Amerika, Farah Quinn membekali dirinya dengan menempuh pendidikan diploma di Pittsburgh Culinary Institute, dengan konsentrasi pastry work. Selain itu, Rin Rin menempuh pendidikan jalur diploma French Cuisine and Patisserie di Le Cordon Bleu, Australia. Sementara itu, Juna memiliki keberuntungan bisa belajar secara gratis kepada master sushi di sebuah restoran terkemuka di Amerika Serikat. Waoww…
    
Selain mereka bertiga, ada lagi nich. Budi Kurniawan, salah satu mahasiswa asal Indonesia merasakan betul manfaat belajar di sekolah At-Sunrice GlobalChef Academy tersebut. "Saya masuk ke sana sama sekali nggak bisa masak, tapi sekarang saya bisa ikut bersaing di industri kuliner tanah air," kata pemilik restoran 'Munchies' di Gandaria City.

Demikian juga William Chandra, sebagai lulusan terbaik sekolah tersebut, pria yang sempat menyelesaikan pendidikan di NHI Bandung itu memiliki kesempatan berkarier sebagai koki di The Ritz Carlton Millenia Singapura.

Menjadi seorang chef billy itu bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan jika kamu mampu untuk memiliki kemampuan dalam mendalaminya dengan baik. Menjadi seorang Chef Profesional juga akan menimbulkan kebahagiaan tersendiri dalam diri kamu. Selain itu ada juga rasa bangga yang akan kamu rasakan nantinya karena kamu bisa menciptakan sebuah makanan yang lezat dan bisa dinikmati oleh banyak orang.

Pokoknya kamu akan mempunyai kebanggaan tersendiri deh. Saat ini, chef tidak hanya didominasi oleh wanita saja, namun ada juga kaum pria yang menjalani profesi yang satu ini. Kembali lagi kepada niat awal kamu, jika dalam hati kamu memang memiliki niat yang tulus untuk mendalami hal ini, maka tidak ada hal yang mustahil yang tidak bisa kamu capai.

Oleh : Siti Fatimah

Advertisement



    Komentar


About Us | Contact | Kebijakan Privasi
©2014 Nilni