Cara Menjadi Pelobi yang Baik

Pelobi adalah seseorang yang memiliki seni dan kemampuan membujuk orang lain agar mau mengikuti keinginannya. Pengertian keinginan disini adalah kepentingan seseorang atau suatu organisasi.

Bisa kepentingan presiden, menteri, pebisnis, politisi, dan bisa untuk kepentingan pemerintah, perusahaan, parpol, organisasi sosial, perorangan dan sebagainya. Secara tradisional pelobi menyajikan isi pesan yang menjadi kepentingan kliennya kepada para penentu kebijakan tertentu atau calon mitra kerjasama.

Di Indonesia, dalam pelaksanaannya, posisi legal dari seorang pelobi  masih belum jelas baik dilihat dari kualifikasi maupun  dari sertifikasinya. Sementara di Amerika Serikat profesi ini dilindungi oleh undang-undang.

Regulasi yang menjadi lkamusan profesi pelobi, terdapat dalam Federal Regulation of Lobbying Act of 1946. Lalu diperkuat dengan The Lobby Disclosure Act of 1995, yang efektif berlaku sejak 1996. Produk hukum ini memayungi mereka-mereka yang berprofesi sebagai pelobi.

Legal atau belum legalnya status, yang jelas peran pelobi di semua negara sangatlah penting. Mulai dari aspek dan lingkup permasalahan yang sederhana sampai yang rumit, peran pelobi tidak bisa diabaikan. Misalnya dalam dunia bisnis, asosiasi pengusaha membutuhkan kebijakan pemerintah yang mampu menstimulus perusahaan meningkatkan kinerja bisnisnya.

Misalnya tentang subsidi harga input, harga minyak, pengelolaan hutan, perpajakan, dan sebagainya. Dalam hal ini peran pelobi adalah melakukan pendekatan ke pejabat pemerintah dan anggota parlemen yang berkait dengan isi pesan para kliennya. Jalurnya macam-macam yakni bisa langsung atau tidak langsung.

Bergantung pada tujuan dan sasarannya maka para pelobi dapat melakukan lobi dengan jalur Langsung, Sosial, Koalisi, dan jalur Akar Rumput.

via Pixabay

1. Jalur Langsung

Melakukan praktek lobi langsung dengan cara menyajikan isi pesan dari klien di hadapan pengambil keputusan atau mitra kerjasama. Biasanya dilakukan secara formal dalam suatu pertemuan. Pelobi berusaha memengaruhi sasaran untuk memahami dan bersedia memenuhi keinginannya. Diskusi tidak cukup dilakukan hanya sekali saja tetapi berulang-ulang hingga tercapai kesepakatan.


2. Jalur Sosial

Dalam proses melobi dikenal adanya jalur tidak langsung lewat kegiatan santap bisnis, pesta, dan olahraga bersama. Tujuannya membangun suasana persahabatan. Selain itu pelobi dapat menggunakan alat-alat media seperti telepon dan email pribadi. Disitu secara informal dibicarakan kehendak klien kepada para pengambil keputusan. Dengan suasana rileks dan bersahabat diharapkan para pengambil keputusan bersedia untuk memenuhi keinginan pelobi.


3. Jalur Koalisi

Di hampir semua negara jalur ini biasanya dipakai dalam koalisi politik menghadapi suatu pemilihan presiden, ketua parlemen, dan sebagainya. Tawar menawar pembagian kekuasaan juga dibahas dalam lobi ini. Bergantung pada platform dan kepentingannya koalisi bisa berdimensi waktu menengah atau hanya temporer.

Dalam hal isu non-politik, bisa jadi ada kerjasama antarorganisasi untuk memperjuangkan sesuatu. Para pelobi dari tiap organisasi bergabung dalam suatu koalisi untuk membahas masalah yang menyangkut kepentingan mereka.


4. Jalur Akar Rumput

Untuk memperjuangkan sesuatu, misalnya tentang kebijakan harga BBM, masalah lingkungan, kemiskinan, pendidikan, dan sebagainya maka lobi bisa dilakukan lewat organisasi atau kelompok penekan. Mereka melakukan lobi di tingkat pejabat pemerintah dan parlemen.

Dalam prakteknya sering dipertanyakan apakah dalam melobi dibutuhkan ongkos? Yang jelas melobi berarti mengeluarkan enerji fisik dan kecerdasan yang harus didukung dengan ongkos. Tidak saja ongkos untuk menyiapkan bahan, untuk diskusi, santap bisnis, olahraga bersama tetapi juga “nutrisi” bagi para pejabat pengambil keputusan.

Nah hal yang terakhir itu sering menjadi dilematis di negara-negara yang menginginkan adanya pemerintahan yang bersih dan tatakelola korporat yang baik. Namun di sisi lain kebiasaan pemberian “nutrisi”  walaupun dilakukan secara sembunyi-sembunyi ternyata sangat efektif untuk mencapai “deal”.

Walau ada etika yang mengatakan lobi harus dilakukan dengan jujur namun tampaknya pemberian “nutrisi” tidak mudah dihilangkan Artinya kalau tidak dengan “nutrisi” peluang dicapainya kesepakatan sangat kecil. Padahal pemberian “nutrisi” bisa dikategorikan sebagai perbuatan suap atau sogok.

Sementara itu apakah pelobi layak memperoleh kompensasi? Bisa saja itu dilakukan apalagi sang pelobi merupakan akhli yang direkrut dengan cara outsourcing. Para pelobi dikategorikan sebagai tenaga professional.

Namun demikian kompensasi yang diterima tidak boleh berasal atau digunakan untuk suatu pelanggaran hukum, seperti penyuapan finansial dan non-finansial. Misalnya hal yang bersifat non-finansial adalah dalam bentuk ancaman keamanan dan “pemberian” wanita panggilan kepada para pejabat atau mitra kerja untuk meraih kesepakatan. Kalau itu terjadi maka pelobi seperti itu pantas disebut sebagai pelobi tidak bermartabat.

Apa dan bagaimana kriteria pelobi hebat dan bermartabat?

1. Disamping memiliki kecerdasan intelektual juga kecerdasan emosional dan spiritual. Cerdas, rendah hati, dan ramah tamah.

2. Memahami apa isi pesan dari klien yang akan dibahas dengan pejabat pengambil keputusan atau dengan mitra kerjasama.

3. Trampil dalam berkomunikasi personal dan lintaspersonal serta memahami budaya lawan bicaranya. Piawai dalam bersimpati dan berempati. Mampu membangun suasana persahabatan yang hangat.

4. Tidak mudah menyerah apabila ada tkamu-tkamu penolakan dari lawan bicaranya. Namun di sisi lain tidak mau mengorbankan harga dirinya demi kesepakatan semata.

5. Mampu menghindari dan menolak permintaan pihak khalayak sasaran yang mengandung pelanggaran hukum dan a-susila. Prinsipnya adalah menegakkan asas “win-win solution and result” dalam suasana bersih.

Lobi melobi adalah sebagai proses komunikasi. Karena itu pihak yang terlibat, khususnya pelobi haruslah mampu membangun interaksi positif. Hal itu bisa berlangsung dengan lancar apabila pelobi dan khalayak sasaran memiliki kemampuan berkomunikasi dengan baik, isi pesan yang jelas, jauh dari kebisingan psikologis, dijalankan dengan cara legal, dan dukungan media komunikasi.

Pelobi yang mampu menjalani proses komunikasi seperti itu termasuk hebat. Hal ini antara lain dicirikan oleh pergaulan yang luas. Namun idealnya pelobi hebat itu harus disertai dengan karakter integritas personal (martabat) yang tinggi. Yakni yang tidak mudah terjebak pada rayuan materi atau janji-janji jabatan manis tetapi ternyata mengandung sisi moral hazard.

Sebelum menjadi seorang pelobi, ada baiknya kamu membiasakan diri dengan jam kerja yang panjang. Rata-rata seorang pelobi memiliki jam kerja yang lama.

Bila kamu tidak tahan, kamu akan stress dan tidak kuat menjalani profesi ini. Ada beberapa hal yang perlu kamu perhatikan untuk menjadi pelobi yang baik, diantaranya:

1. Kesan pertama. Kesan pertama yang positif harus kamu ciptakan sejak kamu pertama kali menghubungi calon klien (prospek) melalui telepon. Langkah awal untuk memulainya adalah membuat janji ketemuan. Tujuannya untuk efisiensi waktu agar calon klien mengetahui kedatanganmu, dan menyediakan waktu untuk bertemu. Apalagi mereka orang yang sibuk. Namun tak sedikit pelobi yang kesulitan dalam membuat janji ketemu by phone. Maka dari itu etika menelepon harus kamu jaga.

2. Usahakan menelpon di ruangan yang tidak ramai agar percakapan  tidak terganggu.

3. Siapkan alat tulis untuk mencatat hal-hal yang perlu, seperti tempat dan jam untuk ketemu   dan sebagainya.

4. Jika sedang menelepon yang fokus, jangan menelpon sambil melakukan kegiatan lain. Jangan   lupa, smiling voice sangat penting.

5. Jika sudah selesai akhiri percakapan dengan ucapan terima kasih dan tunggu sampai calon   klien menutup telepon.

6. Penampilan. Melobi adalah pekerjaan super penting. Sama seperti akan mengikuti tes wawancara dalam melamar pekerjaan, saat akan menemui klien, kamu harus tetap memperhatikan penampilan. Pilihan busana dan tampilan akan memberikan kesan yang baik pada pertemuan pertama dan pertemuan berikutnya.

Penampilan yang rapi dan merupakan pilihan tepat untuk dipakai saat menemui klien. Pembawaan diri yang kamu tunjukkan di depan klien juga akan sangat menentukan. Klien akan memperhatikan gerak-gerik kamu saat berbicara dan bergerak sebagai bahan pertimbangan.

Jadi selain tampilan fisik yang menarik, sopan dan segar, performa kecerdasan kamu dalam bekomunikasi juga harus kamu perhatikan. Saat menyampaikan penjelasan tentang produk atau jasa yang kamu tawarkan, kamu harus fokus dan tidak bertele-tele.

Kuncinya, siapkan seluruh materi product knowledge kamu. Jangan sampai ketika ditanya kamu gelagapan menjawabnya.

7. Jangan memaksa tapi jangan mudah menyerah. Dalam proses lobbying, kamu akan akrab dengan penolakan. Jangan pernah memaksa. Analisa penolakan klien seperti apa. Kalau misalnya menolak karena alasan tak ada waktu karena terlalu sibuk, katakan kalau kamu sangat memahami, sampaikan permintaan maaf, dan sampaikan juga kalau kamu akan dengan senang hati bertemu lagi dalam situasi yang lebih santai, ketika klien ada waktu.

Minta ijin juga jika tak keberatan, kamu akan lebih senang kalau bisa bertemu di rumah sehingga bisa menyampaikan juga pada istri ataua suami   klien. Lobbying butuh waktu, kesabaran, kegigihan dan optimisme yang tinggi. Jadi jangan   gampang menyerah. Masih banyak calon klien potensial lain. Meski ditolak, jangan putuskan   hubungan dengan orang tersebut.

Tunggulah selama beberapa saat. Setelah itu, kembali   dekati dia. Bisa saja pada saat itu ia sudah berubah pikiran.

8. Berdoa. Berdoa sangat penting. Kalau semua usaha sudah dilakukan terakhir yang bisa kamu lakukan adalah berdoa supaya klien mau melakukan kerja sama, atau membeli produk yang kamu tawarkan.

Dengan berserah dan bertawakal, kamu akan bisa merasa lebih tenang meski calon   klien tersebut menolak. Kekuatan doa akan membuat kamu tangguh.

Bagaimana? Ingin menjadi pelobi yang baik? Cobalah dari sekarang.

Oleh : Devita Putri Mardyanti

Advertisement



    Komentar


About Us | Contact | Kebijakan Privasi
©2014 Nilni