Cara Menulis Artikel 2310 Kata Dalam 79 Menit


Apa strategi yang kamu lakukan kalo lagi di kejar deadline menulis? 

Kalau kamu sibuk sama pekerjaanmu, kuliahmu, dan sebagainya, sedangkan kamu memiliki pekerjaan parttime seperti menulis artikel, apa yang akan kamu lakukan untuk menyelesaikan pekeraan parttime-mu? 

Tidak lain adalah menyelesaikan tulisan itu dengan cepat. 

Tidak jarang dari kita yang stress dengan adanya deadline. Tapi, pada dasarnya, setiap pekerjaan pasti ada cara menyelesaikannya, dengan lebih cepat dan lebih baik. Terkadang yang kurang tepat adalah ketika kita tidak sempat memikirkan cara yang lebih efektif. 

Write : pixabay
Otak kita sudah mulai berkerut sehingga malam-malam setelah pulang kuliah atau kerja, kita nggak bisa tidur. Kita tahu apa yang harus kita kerjakan, tetapi kadang kita tidak tahu harus mulai darimana untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. 

Saya tahu perasaan seperti itu karena sering mengalaminya. Hari ini harus menulis 10 artikel, jika hari ini tidak selesai, maka besok pekerjaan akan lebih berat lagi. Begitulah setiap harinya. 

Tapi, seiring berjalannya waktu, saya mulai mempelajari bagaimana cara menulis yang cepat dan fokus pada apa yang kita kerjakan.
Satu hal yang saya pikirkan saat banyak pekerjaan menulis adalah, mulai menulis dengan cepat tanpa banyak berpikir dan melamun. Dengan cara ini, artikel demi artikel lahir dengan waktu yang lebih pendek dari biasanya. 
Cara ini tidak ada hubungannya dengan bakat menulis, ini adalah bagaimana cara otak kita bekerja : 

Kita bisa menulis dengan cepat dan profesional, kalau kita memberi batasan waktu untuk satu tulisan kita misalnya 35 menit satu artikel, membuang kebiasaan-kebiasaan tertentu yang tidak bermanfaat seperti menutup facebook, twitter, atau mematikan handphone untuk sesaat, dan melakukan beberapa kebiasaan yang bermanfaat. 

Dan itu benar-benar mudah jika kita berpikir bisa melakukannya juga. Saya akan menjelaskannya dengan detail dalam artikel nilni.com ini, sebisa saya, tentang bagaimana menulis dengan lebih cepat :


1. Loncati paragraf pertama jika kamu bingung memulainya

Opening : Pixabay
Paragraf pertama, yang dikenal sebagai paragraf kunci, adalah bagian yang sangat penting dari setiap bagian menulis. Dua paragraf pertama sangat menentukan apakah pembaca artikel kita akan melanjutkan membacanya atau sudah bosan duluan dengan berbagai omong kosong di paragraf pembuka. 

Contoh paragraf pembuka yang omong kosong itu seperti, “Di era globalisasi saat ini, dan semakin ketatnya persaingan kerja, menulis adalah kegiatan yang bisa mendukung kita untuk lebih meningkatkan kualitas kerja kita...”

Banyak orang yang sering tersiksa di bagian ini, menghabiskan lebih banyak waktu untuk memikirkan sesuatu yang, sebenarnya tahu apa yang ingin disampaikan, tetapi belum menemukan kata-kata yang pas  untuk menuangkannya dalam tulisan.
Paragraf pembukamu harus memikat pembaca, memberi mereka satu pilihan, untuk menyelesaikan baca artikelmu sampai selesai. 
Contoh kalimat pembuka yang, menurut pengalaman saya, nendang adalah kalimat yang menohok dan bertanya seperti :

“Apa strategi yang kamu lakukan kalo lagi di kejar deadline menulis?”
“Kamu punya pacar, dan dia mengajakmu menikah, tapi kamu belum siap, apa yang akan kamu lakukan?”  

Nah, karena paragraf pertama pada umumnya adalah paragraf yang isinya tentang gambaran umum isi artikel yang akan kamu buat, kenapa tidak dituliskan setelah kamu menulis semua isi artikelnya saja? Sepanjang pengamatan saya, itu lebih menghemat waktu.

Tapi, jika pikiranmu buntu untuk menentukan kalimat pembuka di sebuah artikel, tinggalkan saja. Itu hanya membuang-buang waktu produktifmu.
Melewatkan paragraf pertama juga memberimu lebih banyak waktu untuk sibuk mengubek-ubek dan memperdalam inti artikelmu. 
Hal serupa juga berlaku ketika kamu sibuk mencari judul yang tepat untuk artikelmu. Tulis saja dulu, selesaikan dulu isi artikelnya, asalkan kamu sudah paham apa yang ingin kamu sampaikan, tulis saja. Urusan judul, nanti akan lebih mudah dicari kalau sudah selesai menulis inti artikelnya.


2. Bebaskan pikiranmu, menulislah tanpa mengedit

Freestyle : Pixabay
Satu hal paling mendasar yang biasa membuat kita lama dalam menulis adalah menulis sambil mengedit. Saya pribadi jarang menerapkan metode ini. Saya adalah salah satu penulis artikel yang risih kalau mengedit tulisan sendiri sambil menulis. 
Menulis sambil mengedit mungkin akan menghasilkan tulisan yang bagus. Tapi, tidak menjamin tulisannya bisa selesai dalam waktu yang cepat. Terkadang malah tidak selesai menulisnya, saya sudah berhenti duluan dan sibuk mengurusi hal lain.
Sayangnya, hal itu tidak membuat untuk menulis cepat, dan hanya karena aku benci menulis gaya bebas, itu tidak berarti bahwa itu tidak bekerja.

Kalau kamu kesulitan membagi waktu menulis, dan benar-benar ingin menyelesaikan beberapa tulisan artikel, bukalah dokumen Microsoft Word barumu, dan mulailah mengetik. 

Nggak usah khawatir tentang bagaimana tulisanmu nanti, just write! 
Entah itu kalimat dan tata bahasamu benar atau kurang masuk akal. Tetaplah menulis. Jangan melihat jam. Selesaikan dulu satu tulisannya. 
Setelah tulisan selesai, proses quick editing pastinya bisa diselesaikan dalam 10 menit. Waktu selama itu lebih dari cukup buatmu untuk menghasilkan artikel yang berkualitas. 

Jadi, membebaskan otak dan pikiran kita ketika menulis akan sangat membantu kita untuk menulis lebih cepat. Cepat dan praktis.


3. Aturlah waktunya

Times : Pixabay
Membatasi waktu mungkin terlihat kurang nyaman. Tapi kurang nyaman itu sebenernya adalah ilusi. Itu terjadi karena kita kurang terbiasa saja. 

Tapi, menulis dengan memberi batasan waktu, dan ketika waktu habis alarm berbunyi, itu sangatlah efektif. Saya dan tim di Inspira sudah membuktikannya. Cara ini bisa bekerja untuk siapa saja dan pekerjaan apapun, jika sudah menjadi habbit. Jadi, cobalah. Aturlah penghitung waktu selama 10, 20 atau 30 menit, kemudian duduk di depan komputermu dan mulai menulis. 

Nggak apa-apa kalau kamu nggak bisa memikirkan apa pun dan nggak tahu menulis apa, dan kamu mungkin hanya menatap layar kosong, nggak apa-apa.
Satu hal unik ketika kita punya batasan waktu adalah, otak kita akan cenderung terpacu untuk terus mengetik sampai artikelnya selesai. Entah bentuk tulisannya nanti akan jadi seperti apa, nggak usah pikirkan bagus atau tidaknya dulu. 
Yang perlu kita lakukan adalah ditulis! Kita akan membenarkan tulisan kita itu nanti.

Nah, setelah timer kamu selesai, pergi dan beranjaklah dari komputermu. Jika dengan timer yang kamu setting ternyata belum menyelesaikan tulisan, ambillah istirahat sebentar untuk merefhresh otak dan balik ke komputer setelah istirahat.
Timer itu nggak harus dalam bentuk waktu atau menitan. Kamu bisa menulis sambil menunggu air yang kamu masak mendidih. Atau kamu bisa menulis di stasiun pas lagi menunggu kereta datang, menunggu film di bioskop, dan sebagainya. 
Otomatis, kalau kereta datang atau film sudah mau diputar, kamu bakalan beranjak dan menutup laptopmu. Dan tiba-tiba kamu sudah memiliki banyak artikel yang tinggal diselesaikan sedikit. Hehehe. Itu salah satu cara kreatif yang sering dilakukan oleh freelance content writer di luar negeri, terutama para travel blogger yang setiap hari jalan-jalan. 

Atau kalau kamu lagi nunggu dosen datang, bisa sambil menulis! 


4. Lupakan Backspace

Backspace : Pixabay
Nah, kalaui yang satu ini pasti semua orang pernah ngalamin. Mengetik sebuah kalimat atau paragraf, kemudian melihat kalau kalimatnya kurang pas dan harus diganti, lalu dengan spontan kita memencet tombol backspace. Kamu pasti pernah kan? Ya, aku punya pengalaman serupa. 

Yang lebih buruk dan kadang membuat saya kesal adalah, setelah beberapa waktu menulis, dan rasanya sudah lama menulis, ternyata hasilnya masih sedikit karena terlalu sering memencet tombol backspace.

Nah, salah satu cara unik adalah mematikan tombol backspace atau menghindari menekan tombol itu. Kurangi mmenekan tombol backspace untuk mengedit tulisan yang tidak perlu atau sedikit saja. Mengedit bisa dilakukan nanti. 
Untuk melakukan hal ini memang perlu kemauan yang kuat. Simpel tapi sering disepelekan. Terlihat mudah tapi hasilnya bisa memuaskan. 
Pokoknya, kalau kamu membuat kesalahan dalam menulis, apakah itu kesalahan ejaan atau kesalahan tata bahasa, teruslah menulis.

Kalau kamu berhasil tidak menekan tombol backspace saat menulis, kemungkinan kamu akan berakhir dengan beberapa kombinasi kosa kata yang memiliki potensi untuk menjadi frase, yang nantinya membuat artikelmu tidak monoton.


5. Lakukan Riset Sebelum Menulis

Library : Pixabay
Salah satu cara tercepat untuk menulis adalah memisakan waktu menulis dengan mencari data dan referensi. Sebelum kamu duduk untuk menulis, pastikan kamu sudah melakukan semua penelitianmu dan paham dengan apa yang akan kamu tulis. 
Dengan cara ini, yang harus kamu lakukan adalah menulis tanpa henti. Semuanya sudah ada di kepalamu - kamu hanya perlu mengeluarkan apa yang ada dibenaku tentang topik yang akan kamu bahas, jadilah tulisan.
Penelitian sebelum menulis juga akan menghentikan aktivitas yang tidak perlu seperti membaca di luar topik artikel saat kamu menulis. Saya pernah dan bahkan dulu sering tergoda untuk membuka artikel lain yang tidak ada hubungannya dengan tulisan saya. 

Misalnya lagi menulis artikel tentang perkuliahan, saya malah lagi baca Kompas.com tentang berita Pak Ahok yang mengundurkan diri dari Gerindra. Coba?

Pastinya, kita perlu inspirasi dari berbagai sumber, tetapi hal itu justru bisa membunuh waktu kalau dilakukan sambil menulis. Kecepatan menulis akan berkurang drastis kalau disambi nyari data.


6. Membuat outline itu wajib

Outline : Pixabay
Inilah tips favorit saya untuk menulis cepat. Pikirkan tentang apa yang ingin kamu tulis, kemudian tulislah outlinenya. Kalaupun menulis artikel yang berasal dari website berbahasa Inggris, seringkali saya membacanya dulu, kemudian setelah saya paham inti artikelnya, saya tulis poin-poin utamanya. 

Setelah poin utama sudah saya catat, saya tutuplah artikel bahasa Inggris tersebut, dan kemudian saya tulis dengan gaya bahasa saya sendiri, sepemahaman saya. Urusan edit dan cek, bisa dilakukan nanti, yang penting nulis dulu.
Membuat outline juga menjadikan kita bisa fokus dalam menulis. Fokus dalam hal ini maksudnya, materi yang kita tulis nggak ngalor ngidul. Proses ini hampir sama untuk setiap tulisan yang akan kamu tulis, entah itu skripsi, ataupun tugas kuliah.
Kalau kamu suka membuat outline, kamu juga bisa membuat outline yang lebih rinci untuk menulis lebih mudah nantinya. Berikan beberapa kata kunci untuk setiap topik atau bahkan paragraf dalam artikel tersebut. 

Dan lucunya, hal ini (menulis outline dengan lebih rinci) seringkali akan menelurkan lebih banyak ide saat kita menulis. 

Yang paling penting, setelah kamu memiliki outline, menulis akan lebih mudah dan tidak memakan banyak waktu.


7. Mematikan Spell Checker


Satu hal yang sering mengganggu saya adalah melihat kesalahan garisbawah warna saat menulis di Microsoft Word. Buat kamu yang sering mengerjakan tugas makalah di kampus, atau di tempat rental-rental komputer, mungkin sering menjumpai garis bawah berwarna merah saat mengetik di Ms Word

Menurut saya, itu sangat mengganggu. 

Jadi, kalau kamu merasa terganggu juga dengan hal itu, cobalah untuk mematikannya. Untuk Microsoft Word 2010, kamu bisa mengklik pada tab biru tua di sisi kiri atas perangkat ini, kemudian klik pada Option> Proofing, dan hapus centang "Check spelling as you type".

Kamu juga bisa menghapus centang pilihan lain yang akan mengganggu proses penulisanmu, seperti “Mark grammar errors as you type". Kamu bisa memeriksa semua kesalahan ini nanti kalau sudah selesai menulis, denga cara klik pada bagian tab di Microsoft Word, kemudian pilih Review > Spelling & Grammar Check

Dengan melakukan ini, kamu akan lebih bebas dalam menulis dan idemu bisa mengalir lebih lancar dan alami, sehingga kenyamananpun bisa dirasakan saat menulis.


8. Carilah partner untuk menulis bareng

Partner : Pixabay
Jika dengan cara-cara tadi, kecepatan menulismu masih kurang, saya rasa kamu memerlukan seorang editor atau seorang teman yang bisa terus memantau progressmu dalam menulis. 

Saya sendiri juga memiliki seorang kawan menulis yang sering memantau tulisan saya di kantor. Namanya Mas Wiku Pulangasih. Doi orangnya sangat perfeksionis tapi demokratis. Saya sangat terbantu olehnya dalam mengecek kualitas tulisan saya.
Memiliki seorang partner dalam menulis, bisa membuat kita lebih terpacu untuk menulis lebih baik lagi. 
Atau setidaknya, ada orang lain yang bisa membantumu untuk menghitung seberapa lama waktumu menulis satu artikel, seberapa bagus peningkatan kualitas tulisanmu setiap harinya, dan kadang kita jadi tahu, di topik artikel apa yang sesuai dan cocok denga kita.

Apalagi kalau kamu memiliki banyak job menulis entah itu berupa proyek besar, dan kamu harus menyelesaikannya, misalnya, minggu itu juga, saya rasa memiliki mitra atau partner sesama penulis akan sangat membantumu. Dengan bermitra, kamu akan terus termotivasi dan bisa mengkomunikasikan progres harianmu.

Jika kamu seorang freelance, kamu bisa mengajak freelance lain untuk sama-sama menulis dan saling mengedit. Dimana kamu bisa berkenalan dengan freelace lainnya itu? Di tempat perusahaan kamu bekerja. 

Kamu tinggal menghubungi manajemen perusahaan, pasti mereka akan senang hati untuk menolongmu. Karena, bagaimanapun, suksesmu menulis juga sukses mereka juga. Simbiosis mutualisme. 

Partner menulis tidak perlu harus setiap hari bersamamu. Mereka hanya perlu memeriksa dan melihat apakah kamu melakukan apa yang harus kamu lakukan setiap harinya. 
Tetapkanlah beberapa aturan dasar sebelum memulai berpartner. Kapan kalian akan memeriksa dengan satu sama lain? Bagaimana dirimu akan mengatur arus pengiriman artiel? Apakah kamu bertukar pekerjaan masing-masing dan memberikan umpan balik?
Bagi saya, partner menulis terbaik adalah orang yang sama-sama melakukan pekerjaan yang kita lakukan. Sehingga kita jadi tahu posisi masing-masing. Kita jadi tahu karena kita menjadi subjek juga jadi objek. 

Dengan cara ini,  kita tidak hanya mendapatkan bantuan, tapi kita juga bisa membantu orang lain untuk menulis lebih baik. Entah menulis apapun itu, karena menulis adalah pekerjaan yang tak lekang oleh zaman.


Menulis Profesional itu intinya apa?

Professionals : Pixabay
Saya sebenarnya juga masih dalam proses belajar. Tapi, menurut saya, menulis profesional itu berbeda dengan menulis biasa seperti menulis di blog biasa. 
Jika kamu bisa menulis, seberapa banyak kata yang kamu bisa tulis, dan kemudian kamu posting tulisanmu di blog pribadimu, kamu sudah menjadi seorang penulis. Jika kamu bisa menulis, dan kamu mendapatkan penghasilan dari karya tulismu, itulah penulis profesional. 
Dan, ketika kamu menjadi seorang penulis profesional, maka kamu dituntut untuk terus meningkatkan skill menulismu. Semakin hebat kamu menulis, semakin besar bayaranmu. Dan, yang bisa membuat kemajuanmu dan perkembanganmu terus meningkat, adalah dirimu sendiri. Bukan perusahaan yang bekerja denganmu, bukan siapapun juga. Oranglain mungkin bisa membantu, tapi jika kemauan belajarmu kurang, maka berakhirlah sudah.

So, berkonsentrasi untuk menyelesaikan satu demi satu tulisan, tingkatkan jam terbangmu, kemudian sisihkan beberapa menit untuk merevisi dan mengeditnya. Jadikan tulisanmu menjadi satu tulisan utuh, bukan hanya di aang-awang saja. Deal done! Tulisanmu nggak akan bisa profesional kalau tidak selesai. 

Cobalah amati lebih detail lagi, kamu akan melihat bahwa nggak banyak perbedaan antara menulis cepat dan menulis secara biasa. 

Karena apa?

Karena kamu juga melakukan penelitian, menuliskan outline, dan mengedit artikel untuk membuatnya profesional. Kita hanya perlu mengambil pendekatan lain yang lebih efektif, terutama soal waktu.
Jadi, tulislah artikelmu sebebas-bebasnya, kemudian buatlah hasilnya menjadi profesional. Practice makes perfect. Gunakan tips-tips dan trik tadi secara teratur, saya yakin kamu bisa menulis dengan lebih cepat. 
Atau, kalau kamu punya trik lain untuk menulis cepat dan profesional, kamu juga boleh untuk share ke saya.

Ketahuilah, saya menulis artikel sebanyak 2300an kata ini selama 1 jam 19 menit. Ini juga diselingi beberapa gangguan seperti tamu yang datang di kantor, dan telepon yang berdering dari ibu saya.

Untuk tetap menjaga mood menulis saya terus mengalir deras, saya sambil mendengarkan lagu instrumental favorit saya : Backstreet Boys berjudul Drowning (instrumental). Kamu bisa mencarinya di Youtube. Mungkin kamu punya lagu instrument favorit, cobalah diputar.

Oleh : Rizqi Akbarsyah

Advertisement



    Komentar


About Us | Contact | Kebijakan Privasi
©2014 Nilni