Cara Menyampaikan Kritik dengan Sopan

Dalam kehidupan kita sehari-hari sebagai makhluk sosial, hidup kita tentu tak lepas dari dipuji dan memuji, dikritik dan mengkritik. Kita perlu memuji untuk menunjukkan interaksi positif dengan orang lain, tetapi kita juga terkadang perlu mengkritik sebagai perwujudan kepedulian kita kepada orang lain.

Kritik sebagai wujud kepedulian? Tentu saja. Kritik yang baik tak hanya berisi celaan, tetapi juga alasan mengapa kita mengkritik, dan tentu saja memberikan masukan agar hal yang kita kritik dapat diperbaiki oleh orang yang kita kritik. Jadi, kritik yang baik tak hanya menghakimi sesuatu itu buruk, tetapi juga harus menjadi nilai tambah bagi yang dikritik agar bisa menjadi lebih baik.

via Pixabay
Nggak seorangpun suka dikritik. Termasuk seseorang yang secara terbuka mengatakan: “silakan kritik saya!” Percayalah. Orang hanya suka dikritik kalau kritikan itu nggak menyinggung perasaan dan harga dirinya, nggak memojokkannya, dan nggak menelanjangi kenggakmampuannya.

Masalahnya adalah, kita sering tergoda untuk menyampaikan kritik bukan dengan cara yang disukai oleh orang yang dikritik, malah lebih sering disertai dengan dorongan emosi kita sendiri. Walhasil, kita hanya berteriak-teriak tanpa bisa mengharapkan penerimaan dan kelapangan dada orang yang kita kritik.

Hasil akhirnya? Kamu sebal kepada orang yang nggak mau dikritik.

Sebaliknya, orang yang kamu kritik semakin nggak menyukai kamu. Bukan kondisi seperti ini yang kamu inginkan, iya kan?

Mengapa teknik mengkritik yang simpatik itu penting? Karena sebaik apapun isi kritik kamu, kalau disampaikan nggak dengan simpatik akan sia-sia saja, bung! Kecuali kalau kita memang ingin mengajak seseorang bertengkar, kita harus belajar mengkritik dengan cara yang baik.

“Kritiklah mereka dengan cara yang baik dan simpatik,” begitu pesan guru kehidupan saya. Sebagai seorang yang berpikiran logis, saya termasuk orang yang to the point kalau menyampaikan kritikan. Khususnya dulu ketika masih belum memahami psikologi komunikasi. Sekarang pun saya belum benar-benar terampil, namun sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.

Mengkritik itu adalah wujud dari kepedulian sosial. Kita nggak perlu alergi untuk dikritik karena saat seseorang mengkritik adalah saat dimana kita dipedulikan. Dan itu adalah saatnya kita untuk memperbaiki diri – kalau isi kritikannya memang valid. Kita juga nggak perlu takut untuk mengkritik, karena tanpa kritik dunia kita bisa lebih cepat hancur.

Banyak perilaku buruk disekitar kita bukan? Tugas kitalah untuk mencegahnya. Apalagi kalau kita sadar bahwa mengkritik untuk hal-hal baik adalah tugas yang diberikan Tuhan kepada setiap pribadi yang menyukai kebaikan.

Dalam bahasa guru kehidupan saya; “saling menyeru untuk berbuat kebaikan, dan saling mencegah dari kemungkaran”. Mengkritik? Hayuk. Tapi, lakukanlah dengan teknik yang simpatik.

Melihat orang lain melakukan hal yang membuat nggak nyaman seringkali memancing kita untuk mengeluarkan kritikan. Hal yang hendak disampaikan bisa jadi merupakan tanggapan yang positif, namun seringkali efek yang ditimbulkan justru sebaliknya. Salah paham dan kritik yang membangun bisa disalahartikan sebagai kecaman.

Kamu pernah mengalami hal yang serupa? Salah dalam menyampaikan kritikan bisa jadi kamu malah dituding dengan berbagai macam hal. Menerima kritik dari orang lain memang terkadang bukan sesuatu yang mengenakkan, tetapi mengkritik orang lain juga nggak kalah menyakitkan kalau dilakukan dengan sembarangan. Nah, agar kritik Kamu bisa diterima dengan baik oleh lawan bicara, coba lakukan beberapa trik di bawah ini.

Poin-poin berikut merupakan hal-hal yang perlu kita perhatikan ketika kita memuji dan mengkritik:


Bercerminlah terlebih dahulu

Seperti halnya saya, kamu bukanlah manusia yang sempurna. Jadi, kalau menemukan kesalahan atau kelemahan pada diri orang lain, nggak usah langsung ingin mengkritik. Tengoklah ke dalam diri sendiri, sebelum menyampaikan kritik kepada orang lain. Saya teringat pada seseorang yang mengkritik saya tentang sesuatu.

Menurut hemat saya, beliau benar soal kritikan itu sehingga saya mengikutinya. Lagipula, kritikannya itu baik untuk menjadi sarana saya meningkatkan diri saya sendiri. Beberapa tahun kemudian, saya bertemu dengan orang itu.

Saya mengucapkan terimakasih atas kritik yang dulu pernah disampaikannya, karena saya benar-benar mendapatkan manfaatnya. Sayangnya, ternyata beliau menerapkan apa yang dulu saya lakukan yang menjadi pokok kritikannya kepada saya.

Rasa hormat saya kepada beliau nggak berkurang. Tetapi, kejanggalan itu terasa di dalam hati. Maka sebelum mengkritik orang lain, lebih baik kalau kamu bercermin terlebih dahulu.


Abaikanlah hal-hal yang kecil

“Don’t sweat the small stuff,” kata Richard Carlson. Kita ini sering usil dengan hal-hal kecil. Padahal banyak hal kecil yang nggak terlalu prinsipil. Mengapa? Karena kalau kamu terjebak dengan hal-hal atau kesalahan kecil yang orang lain lakukan, maka kamu bisa kehilangan penglihatan terhadap hal-hal besar yang orang itu kontribusikan.

Masak sih gara-gara kesalahan kecil yang nggak berpengaruh banyak lalu kita mau menihilkan jasa-jasa baik seseorang? “Hey, hal-hal kecil kalau dibiarkan bisa jadi besar!” Kamu benar soal itu. Tapi apakah semua hal kecil seberbahaya itu. Justru orang-orang baik perlu melakukan kesalahan kecil.

Mengapa? Karena kesalahan kecil itu menghindarkan dia dari sikap sombong dan menyadarkannya pada kenyataan bahwa dia adalah mahluk yang nggak sempurna. Dengan begitu dia bisa terus menjaga sikap rendah hati.

Lagipula, bukankah kita sendiri juga banyak melakukan kesalahan kecil? Jadi, kalau orang lain melakukan kesalahan kecil yang nggak merugikan kamu – maka sebaiknya kamu abaikan sajalah. Nggak usah usil.


Nilailah tingkat urgensinya

Banyak kelemahan orang lain yang bisa kita kritik. Cara berbicaranya. Cara berkirim emailnya. Cara berpakaiannya. Cara berjalannya. Cara bekerjanya. Cara makannya. Percayalah, nggak terhitung banyaknya. Kamu nggak akan pernah sanggup untuk sekedar menginventarisirnya.

Bayangkan kalau setiap kelemahan orang lain itu harus kamu kritik? Bisa-bisa, kamu kehabisan waktu untuk membenahi diri kamu sendiri. Belajarlah untuk menilai tingkat urgensinya. Kalau hal itu nggak penting-penting amat, sebaiknya kamu abaikan saja.

Bukan berarti kamu menjadi apatis, melainkan menggunakan energy yang kamu punya untuk mengkritik hanya hal-hal yang memang penting. Menjadi pribadi yang impulsif itu melelahkan lho. Makanya, kamu perlu belajar menilai tingkat urgensi sesuatu yang menyentak tombol ‘spesialis kritik’ dalam ubun-ubun kamu.


Tinggalkanlah emosi di lemari besi

Coba perhatikan baik-baik bagaimana cara kamu mengkritik. Adakah emosi menyertainya? Tanpa disadari kita berbicara dalam suatu forum hingga memojokkan seseorang. Serius, dulu saya begitu. Lalu saya sadar bahwa itu bukanlah teknik simpatik dalam mengkritik. Alih-alih menerima kritikan, orang malah menjauhi kita.

Contoh lain, seseorang mengkritik saya tentang isi artikel yang menurutnya ‘terlalu panjang’ sehingga beliau malas membacanya. Katanya, artikel saya harus ditulis singkat dan padat supaya nggak membuang-buang waktu pembacanya.

Beliau benar. Namun kebenaran nggak hanya ada di satu sisi. Karena ada argument lain yang juga tepat. Artikel saya, hanya diperuntukkan bagi mereka yang ingin membacanya. Sedangkan bagi mereka yang sibuk, saya menyediakan tulisan singkat padat berbobot karena saya percaya segala sesuatu ada target audiensnya masing-masing.

Anehnya lagi, kritikan untuk menulis singkat itu justru ditulis dengan panjang lebar termasuk beribu argumen; mengapa sebuah pesan email harus singkat. So, nggak perlu membawa-bawa emosi saat mengkritik. Kalau ada emosi itu, maka tinggalkanlah di lemari besi kamu.


Sampaikanlah kritik dengan santun

Kesantunan bukan hanya milik orang timur. Orang barat pun sangat santun lho. Mengapa sih, kita perlu belajar santun? Karena kesantunan itu menunjukkan ‘kelas’ seseorang. Ini nggak selalu berkorelasi dengan pendidikan, karena banyak juga orang yang berpendidikan tinggi namun kalah santun dengan orang yang sekolahnya biasa-biasa saja.

Oleh sebab itu, kesantunan menjadi elemen penting dalam mengkritik. Contoh aktualnya, seseorang mengkritik saya tentang sopan santun dalam berkirim email melalui milist umum. Tetapi saat menyampaikan kritik tentang sopan santun itu, beliau lupa untuk sekedar menulis salam pembuka.

Bahkan ada juga orang yang menggunakan kosa kata yang hanya digunakan di jalanan Bronx. Kritik tentang kesantunan yang disampaikan secara nggak santun bisa kehilangan makna. Mengapa? Bisa jadi orang yang dikritik menjadi lebih baik, sementara orang yang mengkritik tetap menjadi pribadi yang picik.

Lebih dari itu, bukankah kita tahu bahwa Tuhan sangat nggak menyukai orang-orang yang mengatakan sesuatu yang dia sendiri nggak melakukannya? Kalau Tuhan Yang Maha Bijak saja nggak suka, apalagi sesama manusia. So, belajarlah untuk menyampaikan kritik secara santun.


Momen personal

Seburuk apa pun rasa nggak nyaman atau rasa marah yang kamu rasakan, usahakan penyampaian kritikan diakukan dalam momen personal. Hanya berdua saja. Pastikan hanya ada kamu dan orang yang harus menerima kritikan, dan nggak ada orang lain di sekitar kamu.

Hindari memberi kritikan di depan umum, apalagi dengan meneriaki orang yang akan kamu kritik. Lakukan hal yang ingin kamu terima di masa datang.

Kritik tindakannya, bukan orangnya

Hindari menyerang orang yang hendak kamu kritik. Emosi terkadang membuat lupa untuk membedakan antara tindakan dan pelaku. Sebaiknya kritik tindakan yang dilakukan untuk menghindari dendam terhadap orang yang kamu kritik.


Awali kritik dengan pujian

Let’s be honest, orang akan lebih senang menerima masukan atau kritikan ketika hatinya sedang riang. Ciptakan suasanya yang menyenangkan dan bersahabat, kemudian baru sampaikan kritikan kamu.


Beri kesempatan

Beri kesempatan kepada orang yang kamu kritik untuk menyampaikan pendapat. Hal ini penting untuk menjaga ego kamu agar nggak mendominasi pembicaraan dan juga bisa membuat lawan bicara kamu nggak merasa disudutkan. Kritik yang kamu sampaikan juga akan lebih terbuka dan adil kalau nggak ada yang mendominasi pembicaraan.


Sediakan solusi

Pastikan kamu mempunyai solusi yang bisa ditawarkan setelah menyampaikan kritikan. Hal ini bisa berguna untuk melatih kamu nggak hanya bisa dalam menyampaikan kritikan. Nilai plusnya, kamu juga nggak akan dituding memiliki dendam pribadi pada lawan bicara kamu.


Satu kritikan = satu kesalahan

Sebaiknya kamu fokus terhadap satu masalah yang akan dikritik. Kalau terlalu banyak masalah yang dikritik, kamu bukannya dicap kritis tetapi malah akan mendapat label bawel. Selain itu, belum tentu orang yang kamu kritik akan ingat semua hal yang disampaikan. Hindari mengungkit masalah yang lalu.


Gunakan bahasa yang tepat

Pilih kata atau diksi yang tepat dalam menyampaikan kritikan. Penggunaan bahasa yang tepat akan mengurangi kemungkinan salah paham bagi si penerima kritik. Hal ini juga akan melatih kamu menyampaikan kritik secara tepat.


Memuji dan mengkritiklah dengan jujur

Kadang kita lupa, tak semua pujian itu bagus. Pujian yang berlebihan bisa membuat seseorang terlena, merasa sudah sempurna, sehingga lupa untuk memperbaiki diri. Oleh karenanya, pujilah kalau memang seseorang atau sesuatu itu layak dipuji, dan kritiklah ketika seseorang atau sesuatu itu memang harus diperbaiki.


Memuji dan mengkritik harus objektif

Kita sebagai manusia tentu tak lepas dari unsur subjektivitas. Namun, dalam memuji dan mengkritik, terkadang kita lupa. Kalau yang perlu dibenahi itu adalah teman kita, terkadang kita sungkan untuk melakukannya.

Sebaliknya, kalau yang perlu dipuji itu adalah seseorang yang tak dekat dengan kita, terkadang kita sulit melakukannya. Sebenarnya wajar saja, tetapi alangkah baiknya kalau kita meletakkan kedua hal tersebut pada tempat yang tepat. Jangan sampai kita tak berani mengkritik teman kita, sehingga nantinya justru akan mencelakakan teman kita tersebut.


Mengkritik sebaiknya dengan kalimat yang santun

Kalau boleh saya analogikan, kritikan bagi seseorang itu  ibarat jamu atau pil. Pahit rasanya ketika pertama kali menelannya, meskipun efeknya positif, yaitu bisa membenahi diri kita sendiri. Namun, alangkah nyamannya kalau jamu atau pil itu kita kemas sedemikian rupa sehingga menjadi lebih enak untuk dinikmati.

Yah, meskipun pahit, jamu ini bisa kita kemas dalam bentuk kapsul, kan? Demikian juga halnya dengan kritikan. Alangkah baiknya, kalau kita mengkritik dengan memilih diksi yang tepat.

Bagaimana pun juga, tak semua orang kebal kritik. Ada orang yang dikritik langsung pupus harapan. Sangat disayangkan, apabila kritikan kita yang awalnya bertujuan baik justru membuat patah arang karena pilihan kata yang kita gunakan nggak tepat. Oleh karenanya, santun dalam mengkritik sangat diperlukan.

Selain pilihan kata yang tepat, kita juga sebaiknya memberikan alasan mengapa kita mengkritiknya. Yang tak boleh kita lupa, berikanlah masukan agar menjadi lebih baik.  Tentu, alangkah bagusnya kalau kita bisa memberi teladan bagi orang yang kita kritik.

Misalnya saja, kita akan mengkritik kebiasaan anak kita yang suka buang sampah sembarangan. Tentu kita tak hanya bilang, “Nak, jangan buang sampah sembarangan.”  Alangkah baiknya kalau kita ucapkan, “Nak, jangan buang sampah sembarangan karena akan menyebabkan lingkungan menjadi kotor dan bisa menjadi sumber penyakit. Sebaiknya, buanglah sampah pada tempatnya.”

Namun, jangan lupa, kita juga harus menjadi contoh dengan membuang sampah pada tempatnya. Jangan sampai anak  menghakimi kita sebagai orang yang cuma bisa mengkritik saja.

Dalam berinteraksi, terkadang saya tersesat di sebuah lapak yang isinya mengandung kontroversi sehingga menimbulkan kritikan-kritikan yang sangat pedas. Tak jarang, justru tulisan itu sendiri yang berisi kritikan yang meskipun bersifat membangun, tetapi pedas juga ketika pertama kali membacanya.

Sungguh prihatin kalau menghadapi fenomena yang sedemikian. Namun, inilah hidup, tempat berkumpulnya orang-orang dari berbagai penjuru, dari berbagai bidang ilmu, dari berbagai macam adat kebiasaan, dari berbagai macam ide di kepala.

Sangat bervariasi. Akan tetapi, untuk  mengkritik dengan santun, rasanya semua juga bisa melakukannya, bukan? Paling nggak mengusahakannya. Selamat mengkritik!

Oleh: Devita Putri Mardyanti

Advertisement



    Komentar


About Us | Contact | Kebijakan Privasi
©2014 Nilni