10 Film 'Terlezat' Tentang Makanan

Sebuah study film baru-baru ini menemukan fakta menarik bahwa orang-orang yang sering menonton film action memiliki kebiasaan mengomsumsi makanan ringan lebih banyak jika dibandingkan, katakanlah penonton film horror. Mungkin bisa jadi akibat banyaknya adegan kekerasan, perkelaian yang mendebarkan jantung dan memompa aliran darah begitu cepat, mampu membuat perut keroncongan. 

Andai saja ada studi yang menyatakan pula bahwa film horror mampu memberikan efek serupa, niscaya produser film-film horror Indonesia akan mulai memikirkan strategi bisnis penggunaan nama makanan untuk judul-judul filmnya. 

Bayangkan bioskop kesayangan kamu menayangkan film berjudul “Suster Ngesot Mati Keselek Ketoprak,” atau “Tali Pocong Tukang Bakso.” makanan khas Indonesia seperti ketoprak dan bakso akan mengalami lonjakan konsumen dan keberadaan popcorn di bioskop akan terancam.

Belakangan ini sineas-sineas muda Indonesia mulai tertarik mengangkat tema kuliner sebagai bumbu cerita filmnya. Kekayaan kuliner serta kecintaan orang Indonesia terhadap makanan tidak perlu diragukan lagi. Food movies memang belum menjadi genre film populer di Indonesia. Tapi jejaknya cukup banyak untuk kamu ikuti. Ada beragam pilihan film-film (khususnya produksi Hollywood) tentang makanan “terenak” yang harus kamu saksikan sebelum benar-benar merasa lapar. 


Tabula Rasa (2014)

film 'Tabula Rasa' via jurnas.com

Orang-orang di belakang Tabula Rasa mendeskripsikan film ini sebagai film drama keluarga dengan subgenre food film karena mengangkat kuliner khas Minang dan filosofinya sebagai latar belakang cerita. Bahkan mereka mengklaim bahwa Tabula Rasa adalah food film pertama di industri film Indonesia. 

Film ini bercerita tentang Hans (Jimmy Kobogau), seorang remaja yatim dari Serui, Papua, yang memutuskan untuk mewujudkan mimpinya menjadi seorang pemain sepakbola di Jakarta. Pendek cerita, Hans harus mengakhiri karir sebagai pesepakbola lebih cepat karena mengalami cidera kaki. Ia jatuh miskin dan mengakibatkan dirinya menggelandang di ibukota. Rasa frustasi Hans disalurkan dengan tindakan bunuh diri.

Kesialannya pun berlanjut karena ia gagal mati dengan cara melompat dari jembatan penyeberangan. Hans mendapatkan pertolongan dari Mak (Dewi Irawan), pemilik restoran masakan Padang. 

Mak kemudian membawa pulang Hans dan menawarkan makanan kepadanya. Awalnya pegawai Mak tidak menyukai kehadiran Hans di warung mereka. Juru masak bernama Parmanto (Yayu Unru) dan seorang pelayan bernama Natsir (Ramdan Ozzol) meminta Mak menghentikan bantuannya kepada Hans. Tetapi Mak yang telah kehilangan anaknya saat bencana gempa menimpa wilayah Sumatera Barat pada tahun 2009 lalu, menolak mendengarkan kedua pegawainya. Melalui berbagai konflik personal dan kondisi keuangan restoran yang semakin terjatuh, akhirnya Hans menggantikan peran Parmanto sebagai juru masak. 

Tabula Rasa memiliki jalan cerita yang sederhana, dan dengan konflik cerita yang kaya akan emosi. Selain emosi yang mampu menggugah aliran air mata penonton, Tabula Rasa menampilkan visualisasi makanan Padang yang dijamin mampu membuat perut para penonton terasa kosong dan harus segera diisi asupan Rendang dan Ayam Pop. Rancak bana!


Madre (2013)

Madre via kofindo.blogdetik.com
Madre adalah sebuah film yang diadaptasi dari sebuah cerita pendek karya Dewi Lestari. Bercerita tentang seorang peselancar bernama Tansen (Vino G. Bastian) yang mendapatkan kisah masa lalu keluarganya melalui sebuah biang roti bernama “Madre.” 

Sepanjang hidupnya, Tansen tidak memiliki dan mengingat sedikitpun cerita tetang sejarah keluarganya. Yang ia ketahui adalah mendiang ibunya, Kartika, yang mewarisi darah India. Ia meninggalkan Bali dan menuju ke Bandung untuk menelusuri kembali sejarah yang terputus dari keluarganya. Tansen bahkan tak mengetahui bahwa ia memiliki darah Tiongkok, mendapat warisan Madre si biang roti dan sebuah toko roti Tan de Bakker. Di Bandung ia bertemu Hadi (Didi Petet), pekerja setia Tan de Bakker yang sudah bangkrut. 

Madre yang berarti ibu dalam bahasa Spanyol adalah biang dari seluruh roti lezat yang dihasilkan Tan de Bakker. Madre memenuhi takdirnya untuk bertemu Tansen. Namun Tansen tak pernah sedikitpun tertarik dengan dunia roti. Secara bertahap Hadi mengajarkan Tansen membuat roti putih klasik yang akhirnya menyadarkannya akan keahlian turunan dari ibu dan kakeknya, Tan Sie Gie, pemilik toko roti Tan de Bakker.

Kemudian Tansen bertemu Mei, perempuan pemilik toko roti Fairy Bread yang terobsesi dengan dunia roti, terlebih terhadap Madre. Singkat cerita Tansen dan Mei mengembalikan lagi kejayaan Tan de Bakker melalui pasokan roti klasik ke Fairy Bread, dan keduanya jatuh cinta. 
Kamu akan menyaksikan begitu banyak roti yang tentunya akan membuat air liur menetes. Hmm, enak!


Babette’s Feast (1987)

via sedimentblog.blogspot.com
Di sebuah desa di wilayah Denmark pada abad ke-19, seorang pengungsi asal Prancis bernama Babette bekerja sebagai juru masak untuk dua saudara perempuan. Babette yang diperankan Stephane Audran membuat makanan untuk acara ulang tahun ke-100 ayah kedua saudara perempuan tersebut. 

Mereka mengundang kawan-kawannya untuk ikut berpesta. Kawan-kawan mereka memuji kelezatan makanan Babette yang pernah bekerja sebagai juru masak di Paris. Babette’s Feast yang disutradari oleh Gabriel Axel mengadaptasi cerita yang dibuat oleh punulis asal Denmark, Isak Dinesen. 

Majalah TIME menilai Babette’s Feast sebagai salah satu food film terbaik. “Tidak ada film dengan akhir cerita sebahagia film ini: pencapaian transendensi seorang seniman, penontonnya belajar untuk pertama kalinya (dan mungkin terakhir) mengenai transformasi sebuah seni (memasak), mulai dari sup hingga cognac, film tentang makanan yang bisa dinikmati selamanya.” Délicieux!


Big Night (1996)

Big Night via yubanet.com

“To eat good food is to be close to God.”

Setiap penonton yang telah menyaksikan film Big Night akan selalu teringat ucapan Primo, seorang juru masak temperamental dari sebuah restoran Italia yang dimilikinya bersama dengan Secundo (Stanley Tucci). Bisnis restoran Italia yang mereka jalankan berjalan buruk karena penduduk New Jersey tidak menyukai makanan yang Primo buat. 

Seorang pemilik restoran yang berada di dekat restoran Primo bernama Pascal (Ian Holm) mengatakan kepata Primo dan Secundo, “Seorang pria yang bekerja sepanjang hari, dia tidak ingin melihat piringnya dan bertanya, ‘What the fu** is this?’ Ia ingin melihat piringnya, melihat sebuah steak, dan berkata ‘Saya suka steak!’ Pascal mengajak Secundo untuk menyelamatkan bisnis restoran milik mereka dengan memasak makanan bagi seorang musisi jazz terkenal bernama Louis Prima dan kawan-kawannya. 

Stanley Tucci yang berperan sebagai Secundo membantu pula penulisan naskah film Big Night yang berbalut cerita komedi, drama, dan juga mozzarella. Delizioso!


Jiro Dreams of Sushi (2011)

Jiro Dream of Sushi via dewa.tv

Jiro Dreams of Sushi adalah film dokumenter yang disutradarai David Gelb. Bercerita tentang Jiro Ono, pemilik Sukiyabashi Jiro, sebuah restoran bawah tanah yang terletak di sebelah stasiun kereta bawah tanah Tokyo. Sukiyabashi Jiro memiliki 10 kursi dan tiga bintang Michelin sebagai tanda penghargaan prestisius bagi restoran yang menyajikan makanan dengan cita rasa terbaik. 

Tiga bintang Michelin yang didapatkan Jiro Ono dikarenakan Sukiyabashi Jiro masih melanjutkan seni pembuatan sushi yang sempurna. Restoran ini telah dikunjungi oleh presiden Amerika Serikat, Barack Obama baru-baru ini saat makan malam dengan Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe. 

Film ini menggambarkan fanatisme seorang seniman makanan dan dedikasinya terhadap pekerjaan yang ia cintai. “Saya jatuh cinta dengan pekerjaan saya dan memberikan hidup saya untuk (melakukan) itu,” ujar Jiro Ono kepada David Gelb. 

Di umurnya yang telah begitu tua, Jiro Ono masih ingin membuat prestasi dalam bidang yang telah ia geluti puluhan tahun ini. Jiro berkata, “Saya akan terus mendaki, mencoba untuk mencapai puncak, tapi tidak ada satupun yang mengetahui dimana puncak itu berada.” ujar Jiro dalam ungkapan metafora. Salut! Oishi!


Julie & Julia (2009)

Julie & Julia via lcbparis.com

Film yang ditulis dan disutradarai oleh Nora Ephron ini bercerita tentang kehidupan seorang juru masak bernama Julia Child (Meryl Streep) pada awal karirnya di dunia kuliner, dan seorang perempuan muda asal New York, Julie Powell (Amy Adams). Julie Powell memiliki obsesi untuk memasak seluruh resep yang berada dibuku resep makanan untuk anak-anak selama 365 hari. 

Penulis muda ini terobsesi dengan isi buku Mastering the Art of French Cook yang ditulis Julia Child. Powell memutuskan untuk menuliskan cerita tentang obsesinya tersebut dalam sebuah blog untuk memotivasi dirinya dan mendokumentasikan kegiatannya. Tanpa disengaja, cerita yang terdapat di dalam blog Powell dipublikasikan oleh The New York Times setelah para jurnalis, agen penerbitan, dan Julia Child sendiri membaca cerita yang dituliskan Powell. 

Pada bagian akhir cerita, Powell dan suaminya mengunjungi dapur milik Child yang terkenal di Smithsonian Institution.


Like Water for Chocolate (1992)
Makanan dan seks, makanan dan cinta, hidup dan mati adalah gambaran tentang film Like Water for Chocolate. Film ini diadaptasi dari sebuah novel pop karya Laura Esquivel yang dirilis untuk pertama kali pada tahun 1989. Film ini berkisah tentang seorang anak perempuan dari keluarga tradisional Meksiko bernama Tita yang dilarang menikah oleh ibu kandungnya sendiri ketika Pedro, kekasihnya, melakukan lamaran. 

Mama Elena, ibunda Tita, malah menawarkan anak perempuannya yang lain, Rosaura dan Pedro menerima tawaran tersebut dengan alasan agar dapat lebih dekat dengan Tita. Yang lebih menyedihkan, Tita membuat kue pernikahan untuk Pedro dan Rosaura dengan linangan air mata.

Film ini banyak menggambarkan makanan Meksiko yang menggiurkan untuk dinikmati. Singkat cerita, 20 tahun kemudian Rosaura meninggal dan Pedro meyakinkan Tita bahwa ia masih mencintainya dan sangat ingin menjadi suaminya. Kemudian mereka bercinta, tetapi anehnya Pedro meninggal saat mengalami orgasme. Tak lama Tita pun ditemukan meninggal dan meninggalkan buku berisi resep makanan miliknya. Tita adalah Juliet versi kuliner!


Ratatouille (2007)

via dan-dare.org

Ratatouille adalah film animasi komedia yang diproduksi oleh Pixar Animation Studyos. Judul film ini diambil dari nama hidangan Prancis, “ratatouille,” yang tampak disajikan pada akhir cerita film ini. 

Film yang dibintangi oleh Patton Oswalt sebagai pengisi suara karakter Remy, seekor tikus yang tertarik dalam bidang masak memasak. Lou Romano sebagai Linguini, seorang gelandangan muda yang berteman dengan Remy dan Ian Holm sebagai Skinner, kepala juru masak restoran Auguste Gusteau.

Retatouille bercerita tentang Remy, seekor tikus idealis dan ambisius yang diberikan kemampuan mengembangkan indra penciumannya terhadap rasa dan aroma. Terinspirasi oleh idolanya yang juga seorang kepala koki, Auguste Gusteau, Remy bercita-cita menjadi seorang juru masak seperti halnya Gusteau. Penasaran dengan cerita selengkapnya? Saksikan sendiri film ini.


Tampopo (1985)

Tampopo via filmposterart.co.uk

Inilah film terbaik soal ramen! Bercerita tentang Goro (Tsutomu Yamazaki), seorang supir truk yang bersama kawannya berhenti di sebuah restoran ramen pinggir jalan. Sebelumnya Goro telah menyelamatkan seorang anak laki-laki bernama Tabo yang sedang dipukuli oleh kawan sekolahnya. Ternyata, Tabo adalah anak Tampopo (Nobuko Miyamoto) seorang janda pemilik restoran ramen yang Goro kunjungi. 

Berada dalam satu restoran dengan Goro, seorang tamu bernama Pisken (Rikiya Yasuoka) melakukan pelecehan pada Tampopo. Kemudian dengan maksud membela sang pemilik restoran, Goro menantang berkelahi Pisken dan kawan-kawanya di luar restoran. Karena harus bertarung dengan sejumlah orang, ia kemudian kalah dan terbangun di hari berikutnya dalam keadaan babak belur di kediaman Tampopo.

Janda kembang satu ini kembali menemukan rasa cintanya, tapi belum dapat mengetahui rahasia terbaik untuk membuat ramen yang lezat.Kisah film berlanjut ketika Tampopo dan Goro melakukan penelitian tentang membuat ramen yang sempurna dan membuka restoran ramen terbaik. 

Film yang disutradarai Juzo Itami ini banyak melakukan pengambilan gambar jarak dekat. Oleh sebab itu kamu akan melihat banyak ramen dan makanan lain dihidangkan dengan sangat menggoda dan detail. Bahkan salah satu bagian terbaik dari film ini adalah kisah bagaimana cara membuat ramen yang sempurna. 

Kamu akan menemukan plot ketika seorang ahli ramen menjelaskan cara memakan ramen yang benar dan juga cara membuat omurice. Ahli tersebut kemudian menjelaskan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat ramen, bagaimana cara memotongnya, bagaimana cara memasaknya, bagaimana cara menghirup aromanya, dan cara-cara lain untuk membuat ramen yang sangat sempurna tanpa cacat. 

Acungan jempol pun harus diberikan kepada Juzo Itami yang mampu membuat scene tentang ramen lebih menggugah dibandingkan scene seks dan kekerasan yang juga menjadi bagian cerita dari Tampopo. Kamu suka ramen? Atau mungkin terobsesi dengan makanan ini? Tampopo akan menjelaskan segala kebutuhan kamu soal ramenologi. Sllrrp nyam nyam nyam...!


Eat Drink Man Woman (1994)

via rachelmariestone.com

Lupakan Eat, Pray, Love  yang sangat pelit menampilkan scene tentang makanan. Saatnya kamu menonton Eat Drink Man Woman, film yang disutradarai oleh salah satu sutradara terbaik dari Asia yaitu Ang Lee. Lee mengangkat kisah konflik yang terjadi di sebuah keluarga di Tiongkok dengan makanan sebagai inti jalan ceritanya. 

Seorang juru masak bernama Chu (Sihung Lung) yang telah menduda cukup lama dan sangat mencintai profesinya, pada suatu hari membuat makanan untuk makan malam ketiga putrinya. Ketiganya menilai makanan yang dimasak Chu terlalu tradisional. Tapi diam-diam, salah satu anaknya, Jie-Chien (Chien-Lien Wu) yang memiliki karir gemilang sangat menyukai masakan-masakan tradisional dan berkeinginan menjadi seorang juru masak seperti ayahnya. Sementara itu anak tertuanya, Jia-Jen (Kuei-Mei Yang) memandang pria dengan sangat sinis. Sedangkan anak bungsunya, Jia-Ning (Yu-Wen Wang) adalah seorang mahasiswi yang hamil karena petualangan cintanya yang liar. 

Keluarga ini memiliki tradisi makan bersama setiap hari Minggu. Tradisi di meja makan ini menjadi ajang rapat keluarga, bahkan menjadi tempat pengakuan anak-anak Chu. Setiap anak menceritakan pandangannya tentang sikap ayahnya yang mereka pandang berpikiran tradisional dan menuntut sebuah tradisi baru dalam keluarga. 

Dalam film inipun diceritakan setiap anak menemukan kekasihnya masing-masing. Namun ketika hubungan cinta mereka sedang mekar dan berkembang, kondisi keluarga mereka berubah secara drastis. Ayah mereka, Chu, pada akhirnya membuat sebuah kejutan terbesar bagi para penonton pada bagian akhir cerita. Saksikan sendiri kelanjutan ceritanya!   


Oleh: Muhammad Meisa

Advertisement



    Komentar


About Us | Contact | Kebijakan Privasi
©2014 Nilni