Selamat Datang di Perabadan “Selfie”: Sebuah Penjelasan Singkat

“Selfito Ergo Sum” atau “aku selfie, maka aku ada.” Mungkin ide tersebutlah yang akan muncul apabila tokoh filsafat modern, Rene Descrates hidup di masa kini. Tapi kamu tidak akanmenemui pembahasan filsafat selfie yang akan mengernyitkan dahi kamu seperti dosen-dosen tua yang biasa kamu hadapi di depan kelas. 

Selfie! via pixabay.com

Selfie sejatinya bukanlah fenomena baru. Embrionya telah menetas sejak teknologi kamera ditemukan. Nyatanya, hampir dapat dikatakan setiap orang yang memiliki kamera (atau perangkat berfitur kamera) memiliki setidaknya satu foto selfie. 

Ya, kita hidup diabad “selfie.” Selfie merupakan sebuah cara memotret diri sendiri menggunakan kamera biasa atau fitur kamera dalam smartphone. Dan kewajiban seorang “penganut” selfie adalah membagikan foto yang telah iajepret ke dalam akun sosial media miliknya melalui jaringan internet.

Sebuah pengertian yang panjang dari satu kata yang tiba-tiba menjadi kebiasaan orang-orang modern secara global. Belum ada pengertian ilmiah yang mampu mendeskripsikan selfie dalam kalimat yang lebih singkat dan padat. 

Namun, kata “selfie” rupanya telah masuk ke dalam daftar kata di dalam Oxford Dictionaries pada tahun 2013 lalu, yang didefinisikan sebagai, “sebuah foto yang diambil seseorang, biasanya diambil dengan menggunakan sebuah smartphone atau webcam dan diunggah ke dalam akun media sosial.” Ya, bahkan perumus kata dari Oxford Dictionaries pun harus menjelaskannya dalam kalimat yang panjang.

Selfie dapat dikatakan pula sebagai bagian dari seni komunikasi visual dalam bentuk instan yangmengedepankan tentang informasi pribadi seperti soal apa yang sedang dilakukan, dimana kamu sedang berada, siapa dirimu yang sebenarnya.Dan hal yang biasa menjadi tujuan para pelaku selfie: siapakah yang akan memberikan komentar dan menyukai foto yang kamu potret. 

Selfie telah mengubah banyak aspek dalam proses interaksi sosial di dunia digital, cara mengomunikasikan bahasa tubuh, mengeksploitasi privasi, dan mengubah perilaku masyarakat. Dalam seni fotografi, selfie merupakan salah satu genre terbaru yang sepertinya dikembangkan secara tak sadar dari seni fotografi portrait.

Selfie tidak harus mengikuti kaidah-kaidah fotografi seperti framing dan teknik yang biasa ditemui dipada genre portrait. Yang kamu perlukan untuk melengkapi kaidah-kaidah selfieadalah foto yang diambil secara spontan dan santai, dan tidak lupa membagikannya ke dalam akun sosial media milikmu sendiri.

Cukup itu saja. Maka dengan demikian kamu dapat dikatakan seorang penganut selfie yang “mabrur”.


Siapa saja sih yang pernah memotret dirinya sendiri sebelum kata “Selfie” muncul?

Robert Cornelius via cowanauctions.com

Seperti halnya yang terjadi dengan fenomena sosial lainnya, selfie pun mengalamai rentetan sejarah yang menarik untuk disimak. Faktanya, foto yang dianggap sebagai foto selfie pertama telah diambil oleh seorang ahli kimia yang juga penggemar fotografi bernama Robert Cornelius pada tahun 1839.

Usaha menciptakan foto selfie-nya pun tidak semudah menekan tombol foto di dalam smartphone atau kamera. Cornelius yang mengambil foto di belakang toko milik keluarganya di Philadelphia, Amerika Serikat, ini harus mengatur kameranya terlebih dahulunya beberapa lama  hingga ia dapat mengambil fotonya sendiri. Dan itu dikerjakannya menggunakan perangkat kamera yang masih sangat manual. 

Selain foto diri Robert Cornelius, jauh setelah itu ditemukan pula beberapa foto selfie dari berbagai penjuru dunia. Foto seorang putri kerajaan Rusia pada tahun 1914 memperlihatkan usaha seorang perempuan untuk mengambil gambar dirinya sendiri dengan memantulkan gambaran dirinya melalui cermin yang tertangkap oleh kamera. 

Sejumlah foto awal genre inipun bermunculan ketika fenomena selfie mulai mendunia.Salah satu foto yang terlebih dahulu mendapatkan publikasi secara luas adalah foto yang diambil oleh salah seorang kawan yang menemani Niel Armstrong menapaki bulan untuk pertama kali, dia adalah Buzz Aldrin.

Foto selfie Aldrin memperlihatkan dirinya yang tengah berada di luar angkasa dengan pemandangan planet bumi sebagai latarnya. Foto Aldrin yang sedang mengorbit di atas wilayah bumi ini dipublikasikan pada tahun 1966, jauh sebelum cara ini disebut sebagai selfie.

Aldrin mungkin akan berpikir, “Wow, jika saja Twitter dan Instagram sudah ditemukan 40 tahun silam, saya mungkin akan lebih terkenal daripada Neil.”

Hasil jepretan Aldrin menjadi pengingat bahwa cara ini telah dilakukan banyak orang jauh sebelum istilah populernya seterkenal saat ini. Tentunya cara yang mereka tempuh jauh lebih sulit dibandingkan sekarang.

Dahulu, diperlukan kombinasi antara rasa ingin tahu yang besar, keahlian teknis fotografi, dan sikap narsis untuk menciptakan foto diri yang menarik. Sedangkan hari ini, semua orang adalah fotografer profesional bagi diri mereka sendiri.

Seni fotografi terus berkembang bersamaan dengan perkembangan teknologi fotografi yang begitu pesat hingga saat ini. Semua jenis orang mulai dari anak-anak hingga para selebritas telah memanfaatkan kecanggihan teknologi kamera di dalam smartphone dan memanfaatkan aplikasi editing foto tidak hanya untuk memperlihatkan kepada orang lain apa yang sedang mereka lakukan, tetapi juga bagaimana mereka tampak sempurna saat melakukannya. 


Berkat teknologi “Selfie” mulai mewabah

MySpace via syncoriginal.com

Evolusi fotografi selfie modern dapat dikatakan terjadi ketika sosial media MySpace digandrungi oleh banyak anak muda secara global. Sejak tahun 2005 hingga 2008, MySpace adalah media sosial terbesar di dunia dan melahirkan fitur “MySpace pic” yang diadopsi oleh banyak sosial media lain yang lahir setelah mereka. 

Tahun 2009 adalah tahunnya Facebook. Situs jejaring sosial ini mengambil alih traffic yang selama ini dikuasai MySpace dan menampilkan desain web yang mampu menampung foto profil berkualitas tinggi. 

Kemunculan iPhone 4 di tahun 2010 semakin mendekatkanselfieke puncak popularitasnya. Fitur kamera depan yang dikembangkan oleh Apple memungkinkan penggunanya mengatur bagaimana foto selfie mereka akan diambil. 

Setahun kemudian Instagram dirilis dan menghadirkan fitur filter dan tagar (tanda pagar) untuk memudahkan pengguna aplikasi mencari foto-foto dengan tema yang serupa. 

Dua tahun kemudian, di tahun 2013 lalu, kata selfie secara resmi masuk ke dalam kamus bahas Inggris Oxford Dictionary. Instagram adalah rumah bagi para penganut genre fotografi ini. Bahkan hingga bulan Oktober 2014, ada sekitar 179.759.244 juta foto bertagar “#selfie” yang telah dibagikan di Instagram. 

Lahirnya selfie, melahirkan pula bermacam gayaatau bahasa tubuh yang coba dikomunikasi oleh para pelaku gaya ini. 

Yang sering menjadi perbincangan umum adalah gaya-gaya lucu seperti “muka bebek”, menempelkan jari di mulut, menaikkan alis, mengambil foto dalam sudut vertikal yang ekstrim, menunjukkan wajah sedih, dan tentunya selfie bersama banyak orang menggunakan tongsis (tongkat narsis) yang menjadi teknologi pendukung selfie terpopuler saat ini. 

Hayoo siapa yang pernah memasang ekspresi seperti itu? Cek lagi deh di media penyimpanan fotomu.

Semua pelaku selfie adalah seorang foto model bagi dirinya sendiri. Kamu boleh mengakusekarang. Kamu pernah membuat foto dengan gaya “muka bebek” bukan? Akui saja!

Pernahkan kamu bertanya mengapa pelaku selfie dapat menyebar begitu cepat? Berikut ini beberapa alasan mengapa selfie-isme dapat menjadi begitu populer.


Narsisisme

Narsis via hutantropis.com

Nasisisme adalah perilaku ketika seseorang merasa sangat bangga terhadap dirinya sendiri dan memerlukan perhatian serta keterlibatan orang lain dalam suatu hal. Kondisi ini sering pula disebut sebagai narcissistic personality disorder. 

Pelaku narsistik ini biasanya kerap merasa lebih baik dibandingkan orang lain. Padahal banyak penelitian membuktikan bahwa para pelaku narsisisme sebenarnya seseorang yang rapuh dan rentang terhadap kritikan yang diarahkan kepadanya. 

Tapi baiknya kesampingkan ilmu psikologi tentang obsesi yang kerap dikaitkan terdapat para pelaku selfie ini. Pada dasarnya tidak ada yang mampu membendung rasa puas dalam waktu yang sangat panjang. 

Narsisisme mungkin memang menyebabkan orang-orang menjadi sangat ingin terlibat dengan proses pengambilan foto ini. Perasaan untuk melihat dan menekan tombol foto di smartphone pasti sulit untuk dibendung. 

Bahkan beberapa orang mengatakan bahwa selfie mampu meningkatkan rasa percaya dirinya sejak banyak orang mengapresiasi foto selfie yang ia bagikan melalui media sosial. Apakah kamu orang yang sangat percaya diri?


Ketakutan Jauh dari Ponsel

Takut jauh dari HP via pixabay.com

Jika kamu merasa takut berada jauh dari ponsel, mungkin kamu tengah mengalami gejala Nomophobia (no mobile phone phobia). Sebagai generasi “smartphone” kamu dapat mengetahui hampir segala sesuatu yang ada di dunia ini hanya dari perangkat komunikasi yang kamu miliki. 

Kamu dapat menemukan film-film dan musik-musik favorit, dan lainnya hanya dengan menggunakan satu aplikasi saja. Selain itu, fitur fotografi yang berada di hampir setiap smartphone memungkinkan mengambil berbagai macam gambar pemandangan, panorama, dan tentunya selfie. 


Semua Orang Melakukan Selfie

Semua orang melakukan selfie via pixabay.com

Perasaan menjadi bagian dari mayoritas masyarakat adalah salah satu penyebab mengapa selfie dapat menyebar begitu cepat. Jika kamu tidak melakukan hal yang sama seperti yang teman, tetangga, atau bahkan orang asing lakukan, rasanya ada sesuatu yang tidak lengkap dalam diri kamu. 

Mungkin kamu tipe orang yang tidak terlalu terobsesi dengan selfie, tetapi ketika melihat sahabat, teman, atau salah seorang dari keluargamu yang mengabil foto macam ini, akan sulit untuk tidak melakukannya juga. 

Pasalnya ada dorongan kuat mengikuti tren yang sedang digandrungi banyak orang ini.


Selfie Cukup dengan Satu Klik

Tinggal 'klik' via pixabay.com

Ya, untuk mendapatkan foto selfie tidak perlu mempelajari teknik dasar fotografi dan kemampuan artistik mengambil sudut foto yang baik. Yang cukup dilakukan adalah memasang wajah semanis mungkin dan “klik” foto kamu siap dibagikan ke dalam Instagram, Twitter, Path dan Facebook secara bersamaan.


Tidak Ada Orang Lain yang Dapat Membantu Saya Mengambil Foto

Mr.Been via community.eflclassroom.com

Ingat kebiasaan tokoh Mr.Bean dalam filmnya yang kerapg melakukan selfie bersama tentara kerajaan Inggris? Alasan mengapa Bean begitu mengandalkan keahlian tangannya dalam mengambil foto adalah tidak ada orang lain yang dapat membantunya mengambil foto bersama sang prajurit kerajaan. 

Selain itu rasa tidak percaya terhadap orang lain pun memberikan alasan konkrit mengapa mengandalkan diri sendiri saat mengambil gambar lebih baik dilakukan, terlebih jika kamu sedang dalam perjalanan wisata, atau memang berada di lingkungan yang sepi.


Mengikuti Artis Idola

Ikut-ikutan artis selfie via tribunnews.com

Masih ingat dengan foto selfie Ellen DeGeneres di ajang Oscar lalu? Ya, foto selfie yang melibatkan banyak artis Hollywood tersebut konon telah disaksikan oleh jutaan orang di dunia. Bahkan setelah foto tersebut menyebar, banyak fans dari artis-artis yang terllibat dalam foto tersebut mengikut gaya mereka mengambil foto. 

Oleh sebab itu semakin banyak publik figur yang melakukan foto semacam ini, semakin banyak pula orang yang akan coba mengikut gaya mereka. Dan pada akhirnya “demam” selfie ini akan semakin menyebar. Viva la selfie!

Pada tahun 2010, seorang kritikus seni bernama David Colman menulis di New York Time mengenai fenomena selfie yang dinilainya berpengaruh terhadap seni fotografi saat ini. “(selfie) secara umum mengubah fotografi itu sendiri.” 

Colman mengutip pernyataan seorang sejarawan seni, Geoffrey Batchen yang mengatakan bahwa selfie merepresentasikan “pergeseran fungsi fotografi sebagai fungsi pengingat menjadi sebuah perangkat komunikasi.” Seperti halnya yang dibutuhkan oleh seorang produsen produk seni, seseorang perlu mempublikasikan karyanya agar orang mengetahuinya. 

Seorang seniman bernama John Monteith telah menyelamatkan ribuan gambar selfie di awal era digital dari berbagai akun anonim. Ada beragam macam foto yang berhasil ia simpan, mulai dari foto selfie yang diambil melalui webcam beresolusi rendah, selfie dengan hasil warna foto yang sangat aneh, dan lainnya. 

Foto-foto tersebut kebanyakan dipublikasikan pada tahun 1999. Estetika selfie pada era tersebut berbeda dengan hari ini karena keterbatasan kualitas kamera yang belum sebaik sekarang. 

Kecepatan penyebaran genre fotografi ini akan terus berkembang dengan perubahan teknologi yang terus terjadi dimasa mendatang. Oleh sebab itu, bukan menjadi hal tabu lagi jika dimasa mendatang kamu menyaksikan semakin banyak orang melakukan selfie dalam berbagai kegiatan dan situasi. 

Bahkan bukti nyatanya dapat dengan mudah kamu temui hari ini. Banyak foto selfie yang tidak hanya diambil saat seseorang sedang merasa senang, tetapi hari ini semakin banyak orang melakukan selfie saat kondisi mereka dalam keadaan terpuruk.

Awal tahun 2014 lalu, seorang penumpang pesawat terbang yang terjatuh Samudera Pasifik bernama Ferdinand Puentes mengambil momen selfie dirinya saat tengah menunggu kedatangan pasukan penyelamat. 

Walaupun dalam keadaan yang masih tergoncang akibat kecelakaan pesawat yang baru menimpanya, ia masih berupaya untuk menggunakan kamera GoPro miliknya dan mengabadikan dirinya yang tengah terombang-ambing di lautan menggunakan pelampung, mengenakan sebuah topi, dan ekspresi yang masih menunjukkan dirinya masih dalam keadaan tenang. 

Oh ya, sayangnya ia tidak dapat mengajak penumpang lain ikut dalam satu sesi foto yang ia lakukan di Samudera Pasifik itu. Ya iyalah dia gak bisa ngajak yang lain selfie, yang lainkan butuh pertolangan medis bukan selfie. Hihihi..... 

Kamu memang sedang berada di zaman ketika membagikan foto dirimu di media sosial secara online adalah hal yang sangat lumrah dan manusiawi. Selain itu, proses publikasi tersebutpun merupakan salah satu pilar utama untuk memenuhi identitas seorang netizen di dunia digital. 

Kamu memang sedang menjalani satu jalan kehidupan di dalam peradaban “selfie.” Maka topik ini tidak perlu kamu perdebatkan secara keras dan berapi-api. Karena pada dasarnya, segala sesuatu yang baik atau buruk akan memudar pada waktunya dan digantikan oleh nilai-nilai dan kebiasan baru. 

Selfie-isme tidak akan bertahan di puncak “peradaban” selama-lamanya. Ia akan digantikan dengan sesuatu yang jauh lebih menarik. Bisa jadi hal-hal baru yang sering kamu lakukan dan dianggap aneh oleh orang lain akan menjadi tren yang mendunia dalam puluhan atau ratusan tahun mendatang. 

Apakah Robert Cornelius menyadari bahwa gaya foto yang ia ambil pada tahun 1839 akan banyak ditiru oleh orang-orang modern di tahun 2014? Apakah Buzz Aldrin mengetahui bahwa foto selfie yang menunjukkan dirinya sedang mengorbit di atas bumi memberikan inspirasi kepada banyak orang untuk mengabadikan momen selfie di ketinggian?

Jawabannya pastilah tidak. Oleh sebab itu, lebih baik saat ini kamu ambil smartphone, akses fitur kamera, arahkan kamera bagian depan ke arah wajahmu, buat ekspresi selfie terbaik yang kamu bisa, dan katakan “cheers.”

Kalau kamu bisa memanfaatkan selfie untuk lahan usaha dengan terus up date hasil karyamu, sepertinya boleh juga untuk dicoba. 

Oleh: Muhammad Meisha

Advertisement



    Komentar


About Us | Contact | Kebijakan Privasi
©2014 Nilni