10 Tips Menjadi Travel Writter

Berwisata, bertualang, travelling atau sekedar jalan-jalan nampaknya merupakan kegiatan yang sedang marak dan menjadi tren belakangan ini. Banyak hal yang bisa didapatkan saat melakukan travelling, mengunjungi tempat-tempat menarik, mencoba hal-hal yang baru, mengenal budaya dan tradisi suatu tempat serta mengabadikannya dalam memori ataupun foto. 

via www.mikegerrard.net
Tak hanya itu, rupanya mengabadikan momen mengasyikkan saat liburan juga dapat dilakukan dengan menulis, atau kerap disebut travel writer. Profesi Travel writer ini cukup mengasyikkan jika dibanding profesi lainnya, bayangkan saja kamu hanya perlu berjalan-jalan gratis dan mengabadikan pengalaman seru-mu itu ke dalam sebuah tulisan atau artikel. Mengasyikkan bukan? 

Kemudahan serta kepraktisan profesi ini nyatanya membuat profesi baru ini digandrungi oleh banyak kalangan serta menjadi populer. Bahkan, beberapa waktu yang lalu kementrian pariwisata dan ekonomi kreatif menyatakan bahwa profesi Travel writer merupakan salah satu profesi yang menjanjikan di Indonesia.

Lantas apa sih kentungan menjadi seorang travel writer? Kamu bisa menjelajahi tempat-tempat wisata yang belum populer lalu memandu publik atau reader untuk datang ke tempat wisata tersebut dengan tulisanmu. Selain itu, kamu pun dibayar untuk melakukan tugas menyenangkan ini. Asyik bukan? Profesi Travel writer ini pun banyak dicoba oleh penulis handal seperti Yudasmoro Minasiani dan Windy Ariestanti. 

Keduanya pun telah sukses menjadi seorang Travel writer bahkan artikel perjalanan mereka sudah kerap dimuat di beberapa majalah seperti Hello Bali, Tamasya, Panorama, Warisan Indonesia, Travelwan, National Geographic Indonesia Traveller, Getaway serta diterbitkan pula dalam bentuk buku. Meskipun, profesi ini cenderung tergolong santai jika dibandingkan profesi lainnya namun tetap saja menuntut profesionalisme serta komitmen yang tinggi. 

Suka-duka pun tetap dialami seorang travel writer, karena tak selamanya mereka dapat mengunjungi tempat-tempat menarik yang ingin mereka datangi, terkadang mereka juga harus mengunjungi tempat-tempat wisata yang tidak begitu mereka sukai. Selain itu, tantangan besar seorang Travel writer ialah memerlukan kreativitas tinggi. Tentu saja harus kreatif, pasalnya seorang Travel writer selalu dituntut mahir dan cakap dalam mengolah kata-kata serta alur tulisan agar menarik untuk dibaca dan dipahami pembacanya.

Perlu kamu ketahui pula guys, Travel writer ini merupakan bagian dari jurnalisme. Sebagai bagian dari jurnalisme tentu saja dalam penulisannya memerlukan dasar-dasar penulisan jurnalisme sebagai acuannya. Mulai dari bagaimana menentukan judul yang sesuai, kepala tulisan (Lead), tubuh tulisan, serta alur/bagaimana tulisan itu akan dibawa dan dikemas. 

Selain tulisan, unsur penting dalam produk Travel writer yakni foto, oleh karena itu menjadi Travel writer harus memahami pula teknik fotografi atau setidaknya memiliki kemampuan untuk membidik gambar terbaik. Ternyata tak mudah ya menjadi seorang Travel writer namun juga tak sulit lho.. 

Lantas bagaimana sih cara memulai menjadi seorang travel writer? Berikut tips-tips yang bisa kamu terapkan jika ingin menjadi seorang travel writer:


Memiliki sifat tanggung jawab, jujur, dan dapat dipercaya

Mengapa seorang Travel writer harus memiliki sikap tanggung jawab, jujur, dan dipercaya? Hal ini dikarenakan, Travel writer pada hakekatnya merupakan profesi yang bergerak dalam bidang menulis. Menulis merupakan suatu kegiatan untuk mengabadikan momen, sementara menulis saat melakukan perjalanan merupakan suatu tantangan tersendiri karena membutuhkan komitmen serta kreativitas yang tinggi. 

Dengan alasan tersebut lah maka seorang Travel writer harus memiliki sifat tanggung jawab, jujur, dan dapat dipercaya saat melakukan tugasnya. Apabila, Travel writer tak memiliki sifat tersebut, maka ia hanya akan terlena dengan perjalanan dan melupakan kewajiban utamanya untuk menulis. 


Memiliki Kemampuan Menulis

via www.gapyear.com
Kemampuan menulis merupakan bekal menjadi seorang travel writer. Kamu dapat mengasah ketrampilan menulis melalui workshop ataupun memahami prinsip dasar jurnalisme. 

Hal ini dikarenakan Travel writer merupakan bagian dari jurnalisme, sehingga profesi ini memerlukan ketrampilan dari pelakunya untuk dapat memahami prinsip dasar jurnalisme. Prinsip-prinsip ini meliputi unsur 5W+1H (what, when, where, why, who dan how)  yang harus ada dalam tulisan. Selain itu, seorang Travel writer pun harus mengesampingkan subjektivitasnya atau pendapat pribadi yang bersifat emosional dan harus mampu mengedepankan objektivitas serta cover both sides.

Selain itu, kamu dapat mengasah kemampuan menulismu dengan mencoba terus-menerus menulis mengenai pengalaman berpergianmu. Dokumentasikan tempat yang kamu kunjungi dalam panca inderamu misalnya mengenai makanan, souvenir, adat istiadat, penduduk lokal, hotel, dan lainnya. Jangan lupa untuk mencatat dan merekam perjalanan dengan alat bantu karena mengandalkan memori otak saja tidak akan cukup.


Riset Pustaka

via www.travelgearforwomen.com
Sebelum memulai perjalanan ke suatu tempat, seorang Travel writer harus mencari serta mengumpulkan informasi sebanyak dan seakurat mungkin menegenai tempat tujuan tersebut. Pencarian informasi ini bisa dari internet, koran, ensiklopedi, radio, televisi, dan buku. Pencarian informasi ini bisa saja meliputi transportasi menuju tempat tersebut, harga tiket, rute perjalanan, iklim, tempat wisata, penginapan, adat dan tradisi, kuliner, souvenir serta hal-hal menarik dan unik yang patut untuk diangkat dalam sebuah tulisan.

Riset sebelum bepergian ini sangat penting dengan tujuan agar kamu memahami tempat yang akan kamu tuju serta mempersiapkan diri terhadap segala sesuatu yang mungkin terjadi di sana. Selain itu pula kamu dapat melakukan perencanaan serta antisipasi dini mengenai hal-hal yang mungkin terjadi.


Bergabung dengan komunitas

via pixabay.com
Menjadi Travel writer pun harus bergaul dengan lainnya. Kamu dapat mencoba bergabung dengan komunitas-komunitas seperti bacpacker maupun traveler. Tujuannya ialah agar kamu semakin kaya akan informasi mengenai destinasi wisata menarik, serta saling berbagi dengan yang lainnya mengenai pengalaman berwisata. 

Keuntungan lain yang didapat yakni agar mendapat kemudahan misalnya homestay atau guide di destinasi wisata yang sama sekali baru bagi kamu. Bergabung dengan komunitas pun bisa memperluas jaringan pertemanan sekaligus pengalaman bergaul dengan berbagai karakter traveller serta latar belakang budaya yang mereka miliki.


Periksa Kesehatan Sebelum berangkat

via pixabay.com
Kesehatan merupakan hal penting yang harus dipersiapkan sebelum memulai perjalanan. Pastikan kondisi badanmu fit dan siap menghadapi berbagai tantangan baru di destinasi wisata yang akan kamu tuju. Apabila kamu mengabaikan hal ini maka kualitas perjalananmu akan terganggu. 

Selain kesehatan, pastikan kamu mempersiapkan perlengkapan Travel writer sebelum berangkat seperti kotak P3K, sleeping bag (untuk antisipasi), sport shoes, dan berbagai peralatan yang mungkin dibutuhkan dan tentunya yang tak boleh ketinggalan ialah peralatan menulis seperti laptop, tab, gadget, notes serta kamera.


Membuat Blog Perjalanan

Blog merupakan media yang lazim digunakan seorang Travel writer untuk mengabadikan tulisan perjalanannya. Menulis di blog ini dapat dilakukan saat penulis sedang berada di tempat tersebut dan tak perlu menunggu perjalanan itu usai terlebih dahulu. Menulis di blog untuk setiap catatan perjalanan akan melatih kemampuan menulis kamu, sehingga jika kamu sudah cukup percaya diri dengan tulisan yang kamu buat di blog, kamu dapat mencoba mengirimkan naskahnya ke penerbit untuk diterbitkan. 

Seorang Travel writer biasanya memulai karirnya dari personal blog miliknya. Lakukanlah pengelolaan pada personal blog mu, membranding-nya di sosial media, dan dapatkan banyak follower. 

Dengan cara ini meskipun tulisanmu belum dapat masuk ke penerbitan dan lolos kriteria editor setidaknya kamu telah memenangkan hati para pengguna sosial media. Selalu ingatlah bahwa saat ini kekuatan media baru sangat besar dampaknya. So, why don’t trying to manage your blog?


Do, see, and buy

Melakukan, melihat, dan membeli merupakan aktivitas yang harus dilakukan Travel writer saat menjelajahi suatu tempat. 

Mengapa demikian? Pasalnya jika saat melakukan perjalanan itu kamu tidak sempat melakukan sesuatu (misal seperti hiking, snorkling, diving, dan lainnya), melihat pemandangan serta bangunan unik lainnya, serta membeli makanan, souvenir, atau lainnya maka artikel atau tulisan kamu akan kurang kaya dan mendalam dalam mengulas tempat wisata tersebut. 

Serta apabila satu dari kegiatan itu tak dilakukan maka tulisan pun juga akan terasa timpang dan kurang mendalam.


Menulis dan menentukan kategori tulisan 

Sampai lah pada tugas utama seorang Travel writer yakni menulis. Menulis cerita perjalanan ini bisa dengan gaya penulisan apa saja namun harus berpegang pada unsur 5W+1H. Kategori tulisan seorang Travel writer ada beberapa yakni cerita perjalanan, review makanan, review tempat, review transportasi, serta tips & trik. 

Dengan adanya kemudahan teknologi, kamu dapat berbagi tulisan perjalanan kamu tanpa menunggu perjalananmu selesai. Saat menulis pilihlah objek tulisan yang berbeda di banding lainnya. Misalnya kamu mengunjungi Bali, maka janganlah tulis mengenai Pantai Kuta karena notabene semua orang sudah mengetahuinya, cobalah eksplor kemampuan kamu dengan menulis hal-hal baru yang belum pernah ditulis sebelumnya. 

Menjadi Travel writer berarti harus siap menerima tantangan, artinya jangan pernah takut untuk mencoba hal baru. Misalnya mencoba permainan seru, makanan yang belum pernah kita coba sebelumnya atau mengikuti tradisi setempat. Menerima tantangan ini akan semakin memperkaya dirimu dengan pengalaman seru yang belum pernah kamu coba sebelumnya.


Finishing Touch

Setelah beberapa hal tersebut kamu terapkan, tiba saatnya melakukan finishing touch. Beberapa hal yang dapat kamu lakukan pada tahap ini yakni menulis tulisan sendiri, melakukan editing, dan memperkaya tulisanmu dengan foto atau dokumentasi tempat yang kamu kunjungi. 

Yang pertama ialah menulis tulisan. Menulis tulisan memang bukan hal yang mudah terlebih apabila itu merupakan tulisan hasil karya sendiri. Untuk mempermudah, kamu dapat meminta bantuan pada teman, keluarga, atau orang yang lebih terampil menulis untuk menilai tulisanmu secara objektif. Selalu ingatlah untuk meminta masukan, saran, maupun kritik yang dapat kamu terapkan untuk memperbaiki tulisanmu. Selain itu, apabila kamu menulis di blog, hal ini pun akan membantu dengan adanya komentar-komentar pada tulisan hasil karyamu. 

Yang kedua ialah melakukan editing atau mengecek kembali detail-detail seperti penggunaan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), grammar, atau ejaan yang tepat. Bacalah berulang untuk menentukan apakah alur tulisanmu sudah runtut dan enak dibaca atau tidak. 

Yang ketiga yakni, foto atau gambar itu kadang lebih berbicara daripada sekedar tulisan. Maka untuk memperkuat kesan tulisan atau artikelmu pasanglah foto terbaik hasil bidikanmu. Foto ini bisa berupa pemandangan sekitar, aktivitas orang di tempat tersebut dan lainnya. Khusus untuk foto yang mengabadikan aktivitas atau kegiatan orang mintalah izin terlebih dahulu agar tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan. 

Yang keempat yakni tetaplah membaca karya-karya atau tulisan lain sebagai referensi dan bahan pertimbangan apakah tulisanmu sudah layak atau masih perlu ditingkatkan. Apabila dibutuhkan mintalah masukan dan pendapat dari penulis-penulis yang lebih senior agar menjadi lebih berkualitas hasil karyamu.


Siapkan diri dalam dinamika dunia menulis

Tak selamanya menjadi penulis, khususnya Travel writer menjanjikan. Kamu dituntut untuk terus berkreasi dan inovasi agar tidak kalah berkompetisi dengan penulis baru lainnya. 

Selain itu, kamu juga harus terus-menerus mengembangkan kemampuan menulis serta menangkap kebutuhan pasar tentang dunia travel writer, misalnya sedang marak cerita perjalanan bergenri ethnic atau modern dan lainnya. Penerbit yang akan menerbitkan karya-karyamu memiliki slot terbatas bagi seorang travel writer, oleh karena itu selain terus mengasah kemampuan menulis perlu juga untuk mengembangkan jaringan di berbagai lini. 

Dapat dikatakan menulis itu mudah, namun agar tulisanmu itu diakui redaksi dan layak terbit dalam bentuk majalah, buku, koran dan media lainnya kamu perlu mempersiapkan mental baja. Tak pantang menyerah dalam mengirimkan karya-karyamu ke penerbit dan selalu disiplin. 

Apabila kamu mengalami penolakan jangan lantas menyerah dan putus asa, selalu cari jalan lain misalnya dengan terus berlatih menulis dengan media blog atau sosial media lainnya.


Melatih kemampuan lewat blog ini pun akan menjadi keuntungan tersendiri karena dapat menjadi portofolio bagi kamu. Apabila kamu serius menekuni blog-mu, kamu pun bisa mendapatkan penghasilan dengan menjadi Travel writer bagi blog personalmu. 

Kamu pun dapat melakukan personal branding mengenai tulisan perjalananmu di sosial media seperti facebook dan twitter, karena kedua media tersebut cukup efektif dalam upaya promosi. Selain itu, kamu juga dapat terus mencoba mengirimkan karya ke grup-grup traveler, mengikuti lomba-lomba travel writer, dan event-event serupa lainnya. 

Hal yang perlu diperhatikan ialah jangan menulis sekaligus menyunting, dan tulis langsung apa yang tergambar dalam otak lalu terjemahkan ke dalam tulisan. Untuk memperkaya tulisan kamu, perbanyaklah membaca, menonton film, mendengarkan cerita orang lain, bergaul dengan berbagai lapisan di masyarakat.

Profesi menulis yang terlihat mudah nyatanya tak mudah juga. Begitu pula dengan penulis perjalanan atau yang sering disebut travel writer. Sama seperti profesi lainnya dibutuhkan profesionalitas, kedisiplinan, inovasi, dan kreativitas yang tinggi. Seorang Travel writer pun harus mampu menangkap peluang agar karyanya mampu diminati pasar. 

Travel writer pun harus pantang menyerah, tebal muka, dan memiliki jaringan yang luas agar mampu bertahan di dunia menulis. Menulis memang tak mudah, tapi tak sulit pula. Kunci dari kesuksesan seorang Travel writer ialah menulislah dengan hati. Do it with your passion. 

Jangan merasa tertekan atau terbebani dengan segala sesuatu terlebih seorang Travel writer harus menulis cerita perjalanan yang menyenangkan. Cerita yang menyenangkan akan sampai ke pembaca apabila ditulis dengan kesenangan pula. Tumpah ruah-kan lah emosimu ke dalam tulisan itu. Menulislah layaknya kamu sedang duduk santai di taman sambil bercerita dengan temanmu. Setelah itu, perkayalah tulisanmu dengan pengalaman serta pengetahuanmu. 


10 cara-cara tersebut patut kamu jadikan referensi bila ingin menjajal menjadi seorang travel writer. Setiap profesi pasti memiliki risiko dan tantangan tersendiri. 

So, selamat mencoba! Keep writing, keep writing and keep writing!! Last but not least, travel more so you can write more. Salam nilni.com

Advertisement



    Komentar


About Us | Contact | Kebijakan Privasi
©2014 Nilni